Disparitas Informasi di Masa Pandemi


Saat ini, ketimpangan informasi terkait dengan korona antara masyarakat kelas atas yang “waras” dan melek informasi dengan masyarakat bawah yang tak tahu apa itu internet, betul-betul sangat kentara. Di pasar Jetak Kudus, misalnya, informasi mengenai konspirasi covid masih beredar luas dari mulut pedagang dan pembeli. Mulai dari Corona buatan Yahudi, seperti flu biasa, pencovidan pihak rumah sakit, masih jadi obrolan trending di pasar.

Tak hanya itu, soal vaksinasipun juga sama. Berita bahwa vaksin itu mengandung lemak babi, belum selesai uji klinisnya, hingga kabar katanya "ada" orang yang setelah divaksin meninggal dunia, memperkuat asumsi dari masyarakat pasar yang notabenya sangat minim menerima informasi yang kredibel dari internet.

Akibatnya, Mbok Mi, penjual sayur di depan ruko ibu saya, biasa-biasa saja nggak patuh protokol kesehatan. Begitu juga pak Mus, buruh angkat gula, yang tak pernah memakai masker. Seorang bakul ibu saya, ketawa ketiwi begitu santuy belanja di pasar, padahal ia sedang mengalami anosmia. Bahkan, ibu saya sendiri menjadi penentang vaksinasi.

“Aku emoh nek divaksin, jarena akeh sing do mati bar divaksin”, kata ibu saya.

“Jarene wae vaksine iku durung selesai uji klinis”, sahut bapak saya.

Saya agak marah ketika mendengar jawaban dari kedua orang tua saya ini. Tapi ya, saya maklumi, karena memang mereka tak tahu berita yang betul seperti apa. Mereka percaya dengan apa yang diceritakan orang lain yang padahal, mereka tak paham medis sama sekali. Tahu sendiri lah, masyarakat pasar kalau cerita seperti apa. Sangat mendramatisir.

Dari awal korona hingga saat ini, kata ibu saya, tak pernah ada penyuluhan dari pemerintah yang menerangkan tentang isu-isu covid yang berkembang di masyarakat. Padahal, hal ini sangat penting. Masyarakat kelas bawah sangat butuh informasi dari pihak-pihak yang memiliki kredibilitas dan wewenang untuk menyampaikannya. Jangan sampai berita hoax yang sesat dibiarkan beredar luas di masyarakat. Bisa berbahaya.

Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan kita yang melek informasi. Kita bisa dengan mudah mengecek mana berita yang betul-betul real, tidak hoax. Di tambah saat ini banyak dari para dokter, lembaga yang memiliki kredibilitas selalu mengedukasi melalui internet dan media sosialnya, memudahkan kita mendapatkan pengetahuan baru. Tentu juga harus selektif dalam menerimanya.

Mencari dan mendapatkan informasi yang faktual terkait dengan korona ini sangat penting, karena memang dunia saintifik selalu berkembang dan berubah. Hal ini justru baik jika dengan takaran yang proporsional. Salah besar jika ada yang beranggapan akan menurunkan imun jika setiap harinya kita diberi berita tentang korona.

Informasi terbaru akan membantu upaya mitigasi agar ketika ada yang terpapar, tahu apa yang harus dilakukan. Bukan malah marah-marah ketika tak dapat tempat rawat di rumah sakit, dan bilang bahwa korona itu seperti flu biasa ketika lima hari sudah sembuh tanpa harus minum resep dari dokter. Ora ngono konsepe.

Maka di masa seperti ini, setidaknya kita mengambil peran. Mari kita edukasi keluarga, kerebat, dan teman yang mereka minim menerima informasi yang benar terkait dengan pandemi ini. Berikan pemahaman kepada mereka pentingnya 6M: memakai masker, menjaga kebersihan tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, menjaga pola makan sehat dan istirahat cukup, dan menjauhi kerumunan.

Dan jangan lupa, stay healthy!

Komentar