Fainnal-‘Ilma Zainun



Setiap malam selasa, agenda yang kami lakukan ketika masih  duduk di  semester satu sampai empat adalah ngaji kitab Ta’lim Muta’allim. Kajian ini diampu oleh Ustadz Ali Yusuf, seorang alumni PUTM sekaligus anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Kajian yang diikuti oleh seluruh thalabah ini dilaksanakan di masjid, dengan sistem khas pesantren: “sorogan”.

Kitab Ta’lim Muta’allim merupakan kitab yang menghimpun tuntunan belajar. Muallifnya adalah Burhanuddin Ibrahim az-Zarnuji al-Hanafi. Kata az-Zarnuji dinisbatkan kepada salah satu kota terkenal dekat sungai Oxus, Turki. Sedangkan, penisbatan al-Hanafi di ujung nama ulama yang hidup di abad ke-6 H ini menandakan bahwa ia bermazhab Hanafi.

Latar belakang az-Zarnuji menulis kitab ini adalah karena banyak penuntut ilmu, “thullab al-‘ilm”, yang sudah bersungguh-sungguh, namun tak mencapai hasilnya. Mereka, kata az-Zarnuji, salah dalam metode, dan meninggalkan syarat-syarat dalam menuntut ilmu. Oleh karena itulah, dalam muqaddimah kitabnya az-Zarnuji berkata: “Aku ingin menjelaskan kepada mereka tata cara belajar berdasarkan yang telah aku lihat dan dengar dari guru-guruku yang memiliki ilmu dan hikmah”.

Di samping bahasanya yang mudah dipahami, salah satu kelebihan dari kitab Ta’lim Muta’allim adalah banyak syair yang dinarasikan oleh penulis. Kurang lebih ada sekitar 130 syair di dalamnya. Dengan bimbingan Suryo, sahabat kami yang memiliki sanad irama syair-syair dari kiainya dulu ketika mondok di pesantren NU, setiap awal kajian kami mendendangkan secara kolektif setiap bait syair yang memiliki segudang hikmah di dalamnya itu.

Dalam pasal pertama, Fashl Fi Mahiyatil-‘Ilm wa al-Fiqh wa Fadhlihi, terdapat syair populer yang dinarasikan oleh az-Zarnuji. Diktum syair tersebut berbunyi:

تعلم فإن العلم زين لأهله وفضل وعنوان لكل المحامد

Belajarlah karena sesungguhnya ilmu itu  perhiasan bagi pemiliknya, dan keutamaan, serta tanda untuk setiap hal yang terpuji”.

Fainnal-‘Ilma Zainun. Sesungguhnya ilmu adalah perhiasan. Bait syair yang dikutip oleh az-Zarnuji dari Muhammad bin Hasan ini memiliki arti yang dalam, “daqiq”. Ilmu, dalam syair tersebut, ibarat sebuah perhiasan. Yang namanya perhiasan, akan memperindah, mempercantik, orang yang memakainya. Perhiasan yang indah akan membuat setiap orang terbelalak, “Tasurrun-nadhirin”. Dan setiap mata akan tertuju pada orang yang memakai sebuah permata berlian nan cantik, indah dan mewah.

Dengan kata lain, orang yang berilmu akan menjadi terpandang di hadapan orang lain. Ilmu akan memuliakan, meninggikan, serta mengangkat derajatnya. Di dalam al-Qur’an sendiri dijelaskan, orang yang berilmu akan diangkat dengan beberapa derajat dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu (QS. Al-Mujadalah: 11).  Dan ilmu jugalah, yang menjadikan dirinya berkilau, bercahaya, dibandingkan dengan orang lain.

Seorang BJ Habibie disegani di Indonesia dan bahkan di Jerman karena ilmunya dalam membuat pesawat. Albert Einstein namanya masih dikenal hingga sekarang karena teori relativitas, dan hukum efek fotolistriknya itu. Cristiano Ronaldo, namanya sangat harum di abad ke-21 ini karena ilmunya, kemampuannya, dalam bermain si kulit bundar. Dan masih banyak orang-orang terkenal lainnya didunia ini karena keilmuannya.

Sudah jelaslah keistimewaan orang yang berilmu itu. Lantas dengan demikian, apa gerangan yang menghalangi anda untuk terus belajar dan belajar?

Komentar