Ziarah Ke Sunan Muria dan Pertemuan dengan Muallaf yang Mengembara ke 170 Wali


Setelah malam Ahad (31/10) saya berziarah ke makam Sunan Kudus, dua hari setelahnya saya memutuskan untuk ke Sunan Muria. Kalau datang ke makam Kiai Ja’far Sadiq alias Sunan Kudus, sudah tak bisa terhitung jumlahnya, karena dulu ketika masih duduk di sekolah dasar, setiap malam Jumat saya sering menziarahinya. Namun, untuk yang ke makam Kiai Raden Said alias Sunan Muria, baru pertama ini.

Pada pukul empat sore, saya bersama seorang arkeolog sekaligus pecandu sejarah Jawa, Umar (baca: Ramu), berangkat dari rumah. Setelah kurang lebih satu jam di atas Vario 150 hitam keluaran tahun 2018, kemudian dilanjutkan dengan dua puluh menit berjalan menapaki anak tangga menuju makam, sampailah kami di makam yang berada di lereng Gunung Muria ini.

Ketika memasuki makam Sunan Muria, ada sebuah tulisan yang tidak saya dapati di makam Sunan Kudus: “Mintalah doa hanya kepada Allah”. Sangat menarik. Jika menggunakan asumsi dasar “sebuah teks tidak mungkin muncul dalam ruang vakum historis dan hampa kultural”, tentu begitu juga dengan tulisan yang dipajang di dinding depan makam ini. Dengan menggunakan teori asbabunnuzul makro ala Fazlur Rahman, atau sabab an-nuzul al-jadid ala Amin Abdullah, saya ambil kesimpulan.

Adanya teks tersebut bisa jadi dilatarbelakangi karena ada peziarah yang menyalahi poin dari ziarah itu sendiri. Dari kacamata sosiologis, ada kepercayaan bahwasanya dengan berziarah ke makam Sunan mampu memberikan keberkahan, kebaikan, dan kecukupan dalam hidup. Tentu hal ini jika ditinjau dari perspektif teologis, bertantangan dengan dogma Islam. Tauhid rububiyyah secara jelas menarasikan, Allah lah rabb, pencipta, pemberi dan pengatur alam semesta.

Kesimpulan saya ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan pengakuan seorang teman yang lekat dengan budaya ziarah, video Youtub dan beberapa artikel, memang ada kepercayaan semacam itu. Di makam Sunan Kudus dan Sunan Muria misalnya, ada tradisi memegang atap pintu masuk makam yang dilakukan para peziarah dengan keyakinan akan mendapatkan keberkahan dan kebaikan dari Sunan. Di makam Sunan Muria juga terdapat sumur peninggalan Sunan Muria yang airnya dipercaya memiliki kekuatan supranatural.

Dari sinilah poin tujuan ziarah terciderai. Ziarah yang tujuan awalnya untuk mendoakan dan mengingat kematian, bergeser ke memperoleh keberkahan.

Setelah membaca Yasin dan mendoakan Sunan Muria, saya pun mencoba air sumur tersebut. Bukan karena mengharap keberkahan, tapi karena haus setelah melewati ratusan anak tangga untuk sampai di makam. Warnanya jernih. Airnya segar. Kalau rasanya jangan ditanya, biasa saja.

***

Pukul 18.30 kami turun dari makam. Ketika sedang duduk di emperan masjid sembari memakan pentol yang saya beli dengan harga 5000, datang seorang bapak dengan jas hitam, peci, sarung dan tas ransel. Romannya khas peziarah. Dari pertemuan dengan bapak inilah saya mendapati banyak hal menarik lainnya.

“Mohon maaf, saya ini kan bukan orang Jawa, boleh tidak menginap satu malam di masjid ini” ucap bapak tersebut.

Saya saling tatap-tatapan dengan teman saya. Mengingat saya bukan orang daerah tersebut. Saya berikan jawaban yang aman saja, “maaf pak coba tanya takmir masjidnya saja”. Kebetulan takmir sedang membersihkan lantai masjid. Kalimat pertanyaan dan jawaban ini menjadi pemantik terjadi obrolan panjang dengan bapak yang ternyata adalah seorang muallaf ini.

“Saya itu seorang muallaf, Dek. Sekarang baru menjalani tarekatnya Habib Luthfi yang dari Pekalongan, untuk mengunjungi makam para wali”, katanya.

Pak Ida Bagus Ketut Lasem namanya; seorang muallaf yang memengembara untuk mengunjungi makam para wali yang ada di pulau Jawa. Dari pulau jawa yang paling Timur hingga yang paling Barat. Mulai dari Sumenep, Pamekasan, Bangkalan, hingga Karawang, Sukabumi, dan Cirebon, beliau kunjungi. Kurang lebih 170 makam yang telah beliau ziarahi. Kunjungan terakhirnya di Sunan Muria. Dan yang paling membuat saya tercengang adalah hal itu beliau lakukan dengan berjalan kaki.

“Nggak boleh naik mobil atau motor, Pak? Tanya saya.

“Nggak boleh. Beneran. Kecuali kalu diajak orang. Wallahi. Saya berani kafir sekarang kalau saya bohong, Dek” jawab Pak Ida setelah saya bertanya kepadanya dengan nada yang agak tidak percaya.

Di samping berjalan kaki, ada beberapa pantangan lainnya yang jangan sampai dilanggar oleh bapak yang katanya berumur 89 tahun ini dalam menjalankan tarekatnya. Pantangan yang diberikan oleh Habib Luthfi, Rais Aam Idarah Aliyyah Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah ini, antara lain: tidak boleh membawa uang, tidak boleh meminta uang atau makanan, dan tidak diperbolehkan tidur di rumah orang. Jika salah satu ada yang dilanggar, kata Pak Ida, maka tarekatnya batal dan harus mengulanginya dari nol.

Cerita masuk Islamnya seorang “salik” yang sudah mengembara selama tujuh tahun ini juga sangat menarik. Ketika masih tinggal di kampung halamannya, Bali, setiap pukul satu malam Pak Ida mendengar suara murotal dan pengajian. Hal ini terulang-ulang hingga satu bulan. Padahal di daerahnya, kata Pak Ida, tidak ada masjid dan tradisi seperti itu. Lantas ia menceritakannya kepada karyawannya, yang kemudian diajak ke salah satu Kiai di Jawa Timur.

“Setelah saya ketemu sama Kiainya, pak Kiai bilang kalau saya itu mendapat hidayah dari Allah. Akhirnya saya ingin masuk Islam. Tapi belum boleh dulu sama Kiainya, Dek. Disuruh mikir matang-matang” kata Pak Ida.

Satu minggu setelah kontemplasi tersebut, akhirnya bukan hanya bapak yang berkasta tertinggi di Hindu Bali: Brahmana, ini saja yang memutuskan untuk masuk Islam, akan tetapi Istri dan anak-anaknya juga. Yang awalnya Islam di daerahnya hanya sekitar 30%, setelah beliau menjadi seorang muallaf, meningkat menjadi 70%. Sebuah berita yang bisa dibilang sangat menggembirakan.

Pengembaraan Pak Ida sangatlah menantang. Sembilan kawannya menyerah di tengah jalan. Tinggal dia seorang. Ketika di daerah Jawa Barat misalnya, beliau bertapa di pegunungan hingga tak makan selama tujuh hari. “Kalau sudah nggak kuat, daun pohon seperti itu saya makan” kata Pak Ida sambil menunjuk daun pohon yang ada di depan masjid. Grombolan singa ghaib zaman dulu juga menemani beliau ketika sedang melakukan tirakat sakralnya tersebut.

“Wallahi. Saya berani kafir sekarang kalau saya bohong” jawab Pak Ida untuk yang kedua kalinya setelah saya bertanya kepadanya dengan nada yang agak tidak percaya.

Setiap kali mengunjungi makam para wali, Pak Ida pasti bertemu dengan wali tersebut. Tak terkecuali, Kata beliau, Sunan Kalijaga pun juga pernah menemui beliau. Inilah salah satu kekasyafan beliau yang jarang orang lain mencapai derajat tersebut. Benar tidaknya wallahu a’lam.

“Sunan Kalijaga ngasih wejangan apa, Pak?” tanya saya.

“Intinya hidup itu ada dua prinsip yang harus dipegang. Pertama itu ikhlas. Ikhlas itu sulit lho. Banyak orang yang mengharapkan imbalan sekarang. Padahal kalau ikhlas pasti akan dibalas Allah. Nah kedua, pasrah, menerima. Apapun yang Allah berikan kalau kita bisa pasrah menerima, insya Allah ada pertolongan dari Allah. Yang penting yakin. Pasti nanti ada jalannya”. Kata Pak Ida.

Hari itu merupakan hari terakhir pak Ida mengelana. Keesokan harinya beliau berencana untuk balik ke kampung halamannya: Bali. Dan sekali lagi, hal itu beliau lakukan dengan berjalan kaki. “Kalau nanti ada uang ya naik bus, kalau nggak ada ya sudah” kata beliau. Sebetulnya masih banyak yang ingin saya gali dari Pak Idha. Tapi, karena ada janji ngopi bersama kawan saya yang lain, pukul 21.00 saya akhiri obrolan yang hangat tesebut.

Ahh, sayang, kemarin kami tak punya waktu untuk berfoto bersama. Dan lebih sayang lagi kemarin tidak jadi menyimpan nomor beliau. Padahal dijanjikan, kalau nanti sudah sampai di Bali, akan dibelikan tiket untuk pergi ke Bali untuk berkunjung ke rumah beliau yang ternyata adalah seorang seniman dan tokoh suku daerahnya. Kapan lagi bisa halan-halan ke Bali secara “geratiss”. Tapi, ah sudahlah.

Semoga selamat sampai tujuan, Pak.

*setelah kami melakukan investigasi, kami menemukan beberapa keganjilan. Mulai dari wajahnya (kami bandingkan dengan foto Ida Bagus Ketut Lasem yang ada di internet) yang tidak mirip, dan beberapa ceritanya yang paradoks. Saya hanya menulis apa yang disampaikan oleh Pak Ida. Apakah ia jujur atau berbohong dengan “tujuan” tertentu, wallahu a’lam.


Komentar

  1. kalo boleh saya minta kontak panjenengan..karna pengalaman yg sama di tempat berbeda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadi malam tanggal 23-12-2021 saya juga bertemu dengan beliau di solo jawa tengah dia juga menceritakan sama periss dan benar dia tidak meminta minta uang sepeserpun

      Hapus

  2. Masya Allah saya juga bertemu beliau di makam Sunan pancer Jawa barat dan apa yang beliau ceritakan sama saat saya bertemu beliau di kala itu beliau jalan kaki Masya allah mendengar cerita beliau saya sangat tersentuh😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah saya juga ketemu dengan beliau dan sama ceritanya

      Hapus
    2. Kemaren ketemu aku hari minggu mlm senin terus ketemu di bisa
      Aku mau ke anaku di bamjarnegaea tepatnya di mandirja terus pergi ke cucuku di purbalingga ngginep di banjir semalem di dieng di bapku semalem terus bsknya tak anterin ke terminal wonosobo
      Dan dia mau pulang ke Bali lewat jogya naik bis karna klo lewat smg macet ktanya pak ida bagus lasem

      Hapus
  3. Saya baru tadi siang bertemu dengan beliau, dan sama yg diceritakan dengan cerita yg saya dengar, beliau lagi di Gunung Tidar Magelang, beliau juga bercerita ini perjalanannya yg terakhir, dan beliau mau plg ke Bali, dan saya sempat foto, dan memberikan nomor telp saya ke beliau. Katanya kalau beliau sampai di bali mau dihubungi dan akan dibelikan tiket untuk maen ketempat beliau.

    BalasHapus
  4. Saya semalam sebangku di bis Eka jurusan Surabaya Cirebon.....banyak obrolan obrolan tentang perjalanan beliau, salut untuk beliau

    BalasHapus
  5. Saya juga mengalami hal yang serupa...saya sebangku di bus murni jaya dari periuk ke jogja pada hari sabtu mlm minggu tgl 22 januari 2022...beliau bilang perjalanan terahir...dan menawarkan tiket ke bali juga,nawarin kerjaan,villa,mobil,modal usaha dll...kalau beliau sudah sampai di bali,,,jujur saya salut sama beliau kalau memang benar beliau Ida bagus Ketut lasem...tapi namanya saya juga manusia biasa,sempat terbesit pikiran yang negatif...kalau memang benar beliau ida Lasem yg pemahat piala presiden itu kenapa setiap beliau bertemu orang hampir 80% yang ditemuinya dan sifatnya lumayan lama bareng,ditawarin hal yg sama..bayangkan saja selama perjalanan beliau( 8 tahun 6 bln 13 hari ) ini kalau ketemu banyak orang dan di belikan tiket ke bali semua luar biasa kayanya kan? Ya semoga aja beliau memang benar ida bagus ketut lasem...tp kok logat balinya jg gak ada...ya sudah mungkin hanya itu sepucuk cerita dari saya ...ada kata" yg kurang berkenan mohon di maafkan...

    BalasHapus
  6. Tafi sore saya juga baru saja bertemu beliau ,wallahualam benar atau tidak nya maka nya saya cari di google dan banyak juga yg mengalaminya

    BalasHapus

  7. Siang tadi q.ketemu d makam sunan Maulana Malik Ibrahim Gresik,beliau lanjutkan k makam Mbah Hamid Pasuruan setelah itu pulang k Bali
    Terima kasih pak Lasem atas cerita pengalaman hidupnya

    BalasHapus
  8. dan saya juga ketemu beliau.. perjalanan dari banyuwangi menuju galekan wongsorejo. itupun beliau diajak sama orang.. dan ceritanya sama seperti orang2.. bahasa bali dan inggrisnya masih sangat lancar.. semoga beliau dikabilkan hajatnya.. aamiin

    BalasHapus
  9. Hari ini tgl 16 Juni 2022 sy jg ketemu beliau di makam kyai Havid Jember beliau menceritakan hal yg sama dan berjanji stelah sampai di Pekalongan akan nlf sy

    BalasHapus
  10. Sy juga ketemu beliau tgl 20 november kmrn jam 18.30 di terminal magelang saat mau naik bus eka, cerita yg sama sy dengar jg. Dan sy terenyuh sekaligus salut dgn cerita beliau, sy yg lahir sbg muslim msh sering mengeluh tp beliau mualaf dan jadi musafir 10thn, katanya. janji yg sama pula, tapi sy cm minta keiklhasan beliau mendoakan kelancaran usaha sy. Masih ada logat bali dan bahasa ingris yg bagus pula.. entahlah setrlah baca semua komen dsni, apakah beliau jujur ceritanya ato tidak. Wallahu allam...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kak kemaren saya juga ketemu.dan persis dengan yang kaka ceritakan

      Hapus
  11. Saya juga ke temu kemaren kak pas mau balik ke bali ke temu di Probolinggo. Saya sempet foto kak

    BalasHapus

Posting Komentar