Ternyata Bahagia Itu Sesederhana Ini



“Uang adalah segalanya”, kata seorang kawan. Dengan uang kita bisa melakukan dan membeli berbagai hal yang kita inginkan. Ingin punya Lamborgini, bisa kita beli dengan uang. Ingin pergi ke London, Paris, Dubai, bisa dengan uang. Ingin makan Pizza, lagi-lagi dengan uang. Maka tak salah jika banyak orang sepakat bahwa uang adalah materi yang mampu membuat kita bahagia.

Uang bisa membeli segalanya. Uang ibarat “Tuhan” yang disembah dan dipuja-puja hingga mati. Karena dianggap Tuhan, maka uanglah segala kebahagiaan tertuju. Bahkan dengan uang, menyuntikkan serotonin, dopamin, dan oksitosin tak tanggung-tanggung dilakukan untuk memacu adrenalin kebahagiaan.

Jika demikian, muncul pertanyaan: lalu apakah kebahagiaan itu hanya hak bagi orang-orang yang beruang? Apakah kebahagiaan hanya milik Rafi Ahmad yang mobil mewahnya bejibun; milik Mark Zuckerberg yang memperoleh 659 juta per dua menit; atau milik almarhum Nail Armstrong yang jejak kakinya sudah sampai di bulan?

Apakah kebahagiaan tidak bisa dimiliki oleh yang tidak punya uang? Apakah pemulung, pedagang kaki lima, dan pengangguran tak lebih bahagia dari Michael Hartono, si bos Djarum? atau lebih jauh lagi, apakah pemburu-pengumpul 30.000 tahun silam yang tak bernama, tak beruang, dan tak berpakaian tidak memiliki kebahagiaan sama sekali?

Jika memang benar demikian, Tuhan sangatlah jahat. Dzolim. Betapa tak adilnya Tuhan.

Tidak. Ternyata tak seperti itu. Kebahagiaan tak ditakar dengan uang. Uang yang banyak bukanlah sumber dari kebahagiaan. Karena pada malam ini, kami mengalami apa itu bahagia. Kami bukan hanya disingkapkan, “mutakasyaf”, apa itu definisi bahagia. Akan tetapi kami juga merasakan, bahkan menyatu, “manunggaling kawula” dengan bahagia itu sendiri.

Ternyata bahagia itu sesederhana ini: di sisi kita (meskipun tak secara jasad) ada teman-teman yang mau mendengarkan cerita kita; hadir teman-teman yang mau memberi saran; serta muncul teman-teman yang mau menghibur dan tertawa bersama di tengah problematika kehidupan yang kita alami. Bahagia itu bukan soal materi, akan tetapi soal “rasa”.

Materi belum tentu membawa kepada kebahagiaan. Akan tetapi kita yang memiliki rasa saling melengkapi, rasa saling menyayangi, dan rasa saling memahami itulah yang membawa kita hanyut, “fana”, lebur dan menyatu dengan kebahagiaan. Mungkin inilah maqam "ma’rifah" dari kebahagiaan; ketika bahagia bukan tergantung pada besarnya materi, akan tetapi bergantung pada rasa saling memiliki.

Terimakasih kawan, telah mengajarkan dan memahamkan apa itu bahagia, yang ternyata sesederhana ini.

Komentar