Belajar "Tepo Seloro" dari Buya Hamka dan Kiai Idham Chalid


Suatu ketika, Buya Hamka pernah satu kapal dengan Kiai Idham Chalid yang kebetulan memiliki tujuan yang sama: Makkah. Semenjak kapal berlayar membelah lautan, tak ada kisah yang bisa kita teladani dari tokoh Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama tersebut, hingga sampailah waktu subuh.

Ketika iqamah dikumandangkan, Buya Hamka mempersilahkan Kiai Idham Chalid untuk menjadi imam. Sholat khusyu' dilaksanakan. Namun dalam rakaat kedua, jamaah NU dibuat heran karena yang biasanya Ketua umum PBNU ini qunut, memilih untuk tidak membaca doa sakral tersebut, lantaran ada Buya Hamka di belakangnya.

Pada hari berikutnya, giliran Buya Hamka yang menjadi imam sholat Subuh. Pada kesempatan kali ini, gantian jamaah Muhammadiyah yang dibuat bertanya-tanya. Buya Hamka yang biasanya tidak pernah qunut, tiba-tiba mengamalkannya lantaran ada Kiai Idham Chalid yang menjadi makmumnya.

Inilah sebuah kisah yang dapat kita ambil ibrah. Kedua tokoh tersebut mengajarkan tentang sikap toleransi. Bahwa saling menghormati dan menghargai perbedaan adalah ciri dari insan yang berilmu. Kalau kata orang bijak, "dahulukan akhlak di atas fikih". Dengan kata lain, mentoleransi perbedaan ijtihadiyah merupakan sikap beradab yang patut kita amalkan.

Sungguh fikih itu luas, yang berimplikasi pada terjadinya perbedaan pendapat dari setiap golongan. Tak masalah berbeda pendapat, selama didasari dengan argumen yang kokoh dan mampu dipertanggungjawabkan. Dan sungguh jika Allah menghendaki, mudah bagi-Nya untuk menjadikan satu mazhab saja dalam umat ini (al-Maidah: 48). Akan tetapi Allah hendak menguji kita, kita mau toleran tidak dengan kelompok yang berbeda.

Mari kita saling tasamuh, “tepo seliro”, menghormati dan menghargai setiap perbedaan pendapat yang ada. Karena sejatinya perbedaan adalah rahmat yang memberikan hikmah dalam pengamalan Agama. Jangan sampai perbedaan pendapat dalam masalah khilafiyah menjadikan kita terpecah dan saling membenci satu sama lain. Sebuah ungkapan masyhur bisa kita jadikan pegangan:

نَتَعَاوَنُ فِيْمَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ وَيَعْذرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيْمَا اخْتَلَفْنَا فِيْهِ

“Kita saling tolong-menolong dalam perkara yang kita sepakati, dan saling menghormati dalam perkara yang kita perselisihkan”.


Komentar