“Cita-citanya apa?” saya bertanya kepada salah satu anak tetangga yang kebetulan sedang bermain di pekarangan rumahnya.
“Pengen jadi astronot” jawabnya secara spontan.
“Kenapa kok pengen jadi astronot” saya bertanya lagi kepadanya.
“Biar bisa pergi ke Bulan” ia menjawab dengan senyum malu-malu kucing.
“Cita-cita yang hebat” batin saya. Betapa tidak, seumurannya yang baru duduk di bangku SD, tetapi sudah memiliki cita-cita besar seperti itu. Semoga saja, ia bercita-cita menjadi astronot karena pernah mendengar petualangan heroik Neil Armstong dan Buzz Aldrin, bukan karena melihat relawan Covid yang sebelas-dua belas dengan astronot ketika memakai seragam APD.
Berbicara tentang astronot, ada sebuah kisah menarik yang membuat saya ketawa geli. Cerita ini saya temukan di buku Sapiens karangan Yuval Noah Harari dalam bab lima belas dengan judul “Perkawinan Sains dan Imperium”. Ceritanya begini:
Sebelum Neil Armstong dan Buzz Aldrin pada 20 Juli 1969 ekspedisi ke bulan, mereka berbulan-bulan berlatih di gurun serupa Bulan di Amerika Serikat bagian barat. Daerah yang dijadikan latihan ini merupakan rumah bagi sejumlah komunitas pribumi Amerika. Karena dekat, tentu sesekali terjadi interaksi antara kedua Homo Sapiens yang berbeda penampilan tersebut.
Suatu hari saat para pengemudi Apollo 11 ini sedang berlatih, seorang kakek pribumi datang menjumpai mereka. Dengan wajah penasaran, si kakek bertanya tentang apa yang sedang mereka lakukan di daerahnya. Kemudian mereka menjelaskan bahwa mereka adalah bagian dari tim ekspedisi yang akan menjelajahi Bulan. Mendengar jawaban tersebut, si kakek terdiam beberapa saat, lalu meminta sesuatu kepada para astronot jikalau dikabulkan.
“Mau apa, Kek?” mereka bertanya.
“Jadi begini” si kakek menjawab, “orang-orang suku saya percaya bahwa di Bulan ada roh-roh suci. Nah, apakah saya bisa menitipkan pesan dari suku saya untuk para roh tersebut?”.
“Pesan apa, Kek?” tanya para astronot.
Karena keinginannya dikonfirmasi, si kakek kemudian mengucapkan sesuatu dalam bahasa sukunya. Ia juga meminta kepada para astronot untuk mengulang-ulang dan menghafal apa yang telah ia ucapkan.
“mohon maaf, ini artinya apa, Kek” para astronot bertanya.
“Oh, maaf. Saya tidak bisa memberi tahu kalian apa isi dari pesan tersebut. Itu rahasia. Hanya suku saya dan roh-roh suci saja yang boleh tahu” kata si kakek.
Tentu jawaban si kakek membuat para astronot penasaran. Pesan apa yang ingin si kakek sampaikan sehingga mereka tak diberi tahu isinya. Apakah sangat penting, atau hanya pesan kosong tak berfaedah. Sesudah kembali ke pangkalan, mereka mencari-cari sampai akhirnya menemukan seseorang yang bisa dan paham bahasa suku tersebut. Mereka memintanya untuk menerjemahkan pesan enigma itu.
Ketika mereka mengulangi hapalan, si penerjemah tertawa sejadi-jadinya. Hal ini membuat astronot semakin penasaran. Setelah ia mulai tenang, para astronot menanyakan apa arti dari ucapan tersebut. Si penerjemah menjelaskan, bahwa kalimat yang mereka hapalkan memiliki arti:
“Jangan percaya sepatah katapun dengan apa yang diucapkan orang ini kepadamu. Mereka datang untuk merebut wilayahmu”.
***
Inilah tabiat manusia: ingin menguasai semesta. Di bawah kendali imperium atau negara, sains digunakan sebagai alat penakluk. Bukan hanya itu, sains juga diciptakan sebagai pelanggeng kekuasaan dan pemuas keambisiusan. Maka tak heran, berbagai cara hingga eksploitasi bumi besar-besaran Homo Sapiens lakukan demi menuruti hawa nafsu bengis tersebut.
Revolusi sains di satu sisi memang memberikan banyak kemudahan bagi manusia. Akan tetapi di sisi lain menjadikan manusia semakin rakus. Hati mereka seolah-olah mati. Kita lihat bagaimana hutan-hutan digunduli guna mendirikan pabrik-pabrik industri; tanah-tanah digali untuk mencari batu bara, tanpa melihat nestapa penduduk yang berhubungan dengan nyawa; dan ratusan tumbuhan dan hewan terancam punah karena rusaknya habitat mereka.
National Geographic melaporkan, aktivitas manusialah yang memang menjadi penyebab utama kepunahan dan kerusakan alam yang mengerikan. Emisi gas rumah kaca telah meningkat dua kali lipat sejak 1980. Kelimpahan spesies asli di berbagai wilayah daratan telah menurun sebesar 20% sejak 1900. Dan sebanyak 680 spesies vertebrata telah punah sejak 1500-an.
Pada tahun 2016, 9% hewan yang dibiakkan untuk sektor bahan baku makanan dan pertanian sudah mati. Lebih lanjut, kata National Geographic, sepertiga mamalia laut dan 33% terumbu karang terancam punah. Tak ketinggalan, 10% spesies serangga di Bumi semakin menghilang. Kondisi amfibi bahkan lebih menyedihkan: 40% spesiesnya sangat terancam.
Benarlah apa yang difirmankan Tuhan dalam al-Qur’an, “Dan bila dikatakan kepada mereka: janganlah membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari” (QS. al-Baqarah: 11-12).
Sesungguhnya ekosistem yang rusak akan berdampak terhadap kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri. Kehidupan manusia akan terancam. Padahal menjaga jiwa “hifdz an-nafs”, jika meminjam istilah Ushul Fikh, merupakan kebutuhan dharuriyyah yang harus senantiasa dilindungi. Diktum al-Qur’an secara jelas mengatakan: “dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri kepada kebinasaan” (QS. al-Baqarah: 195).
Tidak ada kata terlambat untuk memperbaikan ekologi. Kita perlu sadar dan meredam kepongahan hewani yang melekat dalam diri. Perlu juga upaya sitematis dan bahu membahu dari setiap elemen masyarakat ( musyarakah al-mujtama’) dalam menyikapinya. Tak ketinggalan, lembaga otoritas keagamaan juga berperan penting dalam misi mulia ini.
Perumusan “fikih ekologis”, meminjam asumsi hirarkis Majelis Tarjih, dengan pijakan al-qiyam al-asasiyah, al-asas al-kulliyyah, dan al-ahkam al-fariyyah sangat dibutuhkan dalam mengedukasi masyarakat. Perlu kiranya kita menjaga dan melestarikan alam dengan semangat al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena penggunaan instrumen agama mampu meningkatkan kesadaran publik tentang alam semesta.
Saya tak bisa membayangkan jikalau langkah-langkah kecil dan konkret tak kita lakukan. Mungkin dan bisa jadi, kita sekarang sudah ada dalam antrian kepunahan.

Komentar
Posting Komentar