Ketika DPR mengesahkan Omnibus law, banyak twit-twit lucu nongol di timeline saya. Ada yang bilang mau pindah negara, bahkan pindah planet.
Tapi, saya pribadi kalau boleh
berandai-andai absurd, ingin rasanya kejadian yang ada di Dr. Stone
benar-benar terjadi di bumi kita tercinta ini. muncul cahaya misterius yang
menyebabkan semuanya membatu. Alat-alat modern nan canggih lumpuh. Nggak ada
listrik apalagi internet. Yang ada adalah kita kembali ke 30.000 tahun yang
lalu: masyarakat pemburu-pengumpul.
Ekonomi pemburu-pengumpul
menyediakan kehidupan yang menarik. Kata Yuval di bukunya, Sapiens,
mungkin mereka meninggalkan kamp bersama rekan-rekannya katakanlah pukul
delapan pagi.
Mereka menjelajahi hutan, berburu
rusa, mengumpulkan jamur, menggali umbi, menangkap katak, dan terkadang kabur
dari kejaran harimau lapar. Siang mereka sudah kembali untuk makan bersama
keluarganya. Banyak waktu yang mereka miliki untuk bergosip, bercerita, dan
bermain bersama buah hatinya. Semuanya mudah dan nggak ribet. Mereka nggak
harus berurusan dengan oligarki oportunis.
Tidak bergantung pada satu jenis
makanan saja menjadikan masyarakat pemburu-pengumpul bebas dari kelaparan. Di hutan
rimba menyediakan berbagai kebutuhan mereka. Ketika mengalami paceklik, mudah
bagi mereka berburu atau pindah ke daerah yang masih subur dan menyediakan
banyak macam buah dan sayuran.
Para pemburu-pengumpul juga
menderita lebih sedikit penyakit menular. Tak ada tuh yang namanya “Korona”.
Sebagian besar penyakit menular berasal dari hewan. Mereka yang hanya
mendomestikasi anjing, terbebas dari itu. Pandemi nggak ideal berkembang di
pemburu-pengumbul yang bergerombol dalam jumlah sedikit. Berbeda dengan kondisi
sekarang, di manapun dan kapanpun, selalu waspada penularan Covid-19.
Namun ternyata utopia saya ini
keliru. Mengidealkan kehidupan pemburu-pengumpul ternyata salah besar. Di satu
sisi memang kehidupan mereka menyajikan "baldatun thayyibah". Kehidupan
yang enak, makmur, harmonis, dan mudah. Tetapi di sisi lain kehidupan mereka
keras dan tiada ampun.
Masa kesusahan dan kekurangan
bukanlah hal langka. Kematian anak
ternyata tinggi. Kecelakaan yang di zaman modern dianggap remeh, pada
zaman itu bisa menyebabkan kematian. Pemburu pengumpul tak segan meninggalkan
orang lanjut usia atau cacat yang nggak bisa bergerak mengikuti kawanan. Bayi
yang nggak diinginkan, dihabisi. Dan tak segan mereka korbankan anak kecil imut
tak berdosa yang diilhami kepercayaan Animisme.
Pada intinya, hidup itu memang
keras, lur. Sudah dari dulu. Mau pindah ke negara manapun, saya haqqul yaqin,
pasti memiliki masalah-masalah serius dan menyebalkan. Di planet asing entah
manapun itu, mungkin para Dewan Perwakilan Alien sedang melakukan rapat
paripurna yang membahas kepentingan-kepentingan rakyat “bullshit”.
Inilah dinamika kehidupan. Nikmati saja. Yang terpenting jangan lupa bersyukur.

Komentar
Posting Komentar