Tanggal 25 Januari 2020 menjadi kesepakatan mereka bercengkerama. Sebuah perkumpulan wajib satu bulan sekali yang mereka agendakan untuk saling sapa, berlempar cerita, bersawala, dan membahas rencana ke depan. Ya, ini perkumpulan wajib, karena sejak menginjak semester tujuh, perbedaan kampus mengharuskan mereka jarang bersua.
Daerah Kasihan
menjadi pilihan. Bukan tanpa alasan, karena sekarang memang giliran yang Unires
menjadi “tuan rumah”, setelah pertemuan sebelumnya, Persada yang menjadi
penjamu. Ba’da Maghrib dari asrama masing-masing mereka berangkat. Dengan
mengendarai sepeda motor, “Pimpro Kafe” menjadi tujuan kolektif.
Suasana malam
itu mati lampu. Gelap pekat. Entah mengapa, aura magis seolah-olah memberikan
mereka isyarat buruk tentang apa yang akan terjadi setelah pertemuan malam itu.
Namun, meskipun tanpa iluminasi yang mendukung, pertemuan tak mungkin
dibatalkan. Dengan diterangi cahaya android, tak terasa sampai pukul sebelas
mereka berbincang.
Obrolan malam
itu sungguh romantis. Sembari menyeruput kopi, mereka berbincang dan
merencanakan sebuah bisnis baju seperti yang telah mereka lakukan tahun
kemarin. Mereka mengagendakan dari hasil bisnis tersebut untuk menikmati sunset
di pantai, membeli ikan, dan dibakar bersama-sama ditemani dengan desir ombak
di bawah kirana rembulan malam hari. Mereka merencanakan rihlah tersebut
menjadi pertemuan terakhir yang indah, sebelum mereka berpisah.
Namun,
rangkaian peristiwa yang mereka rencanakan nampaknya tak berjalan semestinya.
Pandemi memerkosa mereka membatalkan itu semua. Desain baju yang sudah siap
dicetak, kini hanya tersimpan di beranda. Rencana rihlah ke pantai dan
bakar-bakar ikan, tertunda yang entah kapan akan terlaksana. Dan kedatangan
pendemi mengharuskan mereka berpisah lebih awal dari agenda.
Salah seorang
dari mereka berkata: "Korona itu bedebah! Benar-benar bedebah! Kenapa anda
datang di waktu yang tidak pas? Kenapa anda datang di waktu yang seharusnya
kami habiskan momen-momen terakhir dengan penuh kecerian dan kebersamaan?
Andaikan anda itu berwujud, pukulan sejadi-jadinya pasti akan mendarat di
kepala anda".
Kini mereka
semua terpisah, antar kota, provinsi, bahkan pulau. Komunikasi sekarang hanya
bisa dilakukan lewat online. Bahkan, kala di antara mereka ada yang
dimunaqasyah, mereka tak bisa datang membawa buket dan berfoto bersama dengan
senyum bahagia. Ucapkan selamat hanya tersampaikan lewat wa. Benar-benar
menyebalkan.
"Ya
Tuhan, tiada yang terjadi di muka bumi, melainkan itu adalah kehendakmu. Aku
yakin apa yang engkau kehendaki, pasti ada hikmah dibaliknya yang tak
terjangkau oleh otakku. Pasti, engkau menyimpan sesuatu yang indah untuk kita.
Memang di satu sisi, takdir ini membuat kita nestapa. Tetapi di sisi yang lain,
pasti ada beribu kebaikan di dalamnya" celoteh salah seorang dari mereka
di sudut kamarnya.

Komentar
Posting Komentar