Bangun pagi pada hari ini, berbeda seperti biasanya. Kalau biasanya yang terfikir adalah agenda-agenda “mainstream” yang akan dilakukan, untuk pagi hari ini tak demikian. Yang biasanya santap pagi dilahap dengan mantap, namun tak juga demikian untuk pagi ini. Pagi ini diisi dengan perasaan cemas dan gelisah dalam hati. Penuh enigma, misteri, klandestin dan tanda tanya.
Ya. Hari ini merupakan pembacaan
surat keputusan pengabdian thalabah angkatan 17 dari PUTM. Itu artinya, setelah
ini thalabah secara resmi diterjunkan ke medan juang di setiap pelosok dan
sudut Nusantara. Setelah empat tahun mengasah intelektual, memupuk mental, dan
menyiram spiritual, thalabah diharuskan menerapkan ilmu yang telah diterima. “Khairun-naas
anfa’uhum lin-naas” menjadi aforisme sukma.
Pukul sembilan pagi acara dimulai
dengan diawali pembacaan ayat suci. Prakata Mudir, sambutan BPH, dan Amanat PP
Muhammadiyah menjadi spektrum acara. Pembacaan keputusan penempatan pengabdian,
menjadi penutup dari acara sakral ini yang sangat ditunggu dan dinanti.
Rasanya plong, setelah
mengetahui tempat yang akan menjadi “rumah baru” selama tiga tahun. Rumah baru ini
akan mencatat setiap tragedi perjuangan yang melelahkan. Rumah baru ini akan
merekam setiap goresan pengharapan, keputusasaan, dan kesakitan. Namun, Rumah
baru ini tentunya juga akan melukiskan kepuasan, kegembiraan, keteguhan,
kesuksesan setiap hal yang diperjuangkan.
Saya sangat bersyukur diberikan
tempat pengabdian yang tak begitu jauh dari rumah: Wonosobo. Bisa sesekali
pulang ke Kudus jikalau kangen rumah. Ditambah tempat pengabdian saya ini dekat
dengan gunung Sindoro dan Sumbing, menjadi kesenangan tertunda yang telah ada
di benak saya. Jelas, muncak ketika liburan telah tertulis dalam agenda. Hahaa.
Entah bagaimana jadinya jikalau
saya ditempatkan jauh dari kota kelahiran. Tak terbayang gundahnya jika takdir
menentukan saya ditempatkan di Papua, Kalimantan, atau Sulawesi, sebagaimana
penempatan beberapa teman-teman saya. Karena menurut saya, jauh dari orang tua ibarat
sebuah sayur tanpa garam: hambar, tak sempurna. Keparipurnaan hanya mampu terwujud jika
mampu mengecup tangan orang tua, bukan hanya mengucapkan kangen lewat wa.
Tapi, apa yang telah ditentukan
pada hari ini merupakan kejadian yang sudah tertulis dalam lauhul mahfudz.
Tuhan telah menentukan dan merencanakan itu semua. Tentunya setiap pilihan
Tuhan pasti baik, tak ada yang buruk. Dan setiap pilihan yang telah Tuhan
tetapkan, rintangannya sesuai dengan kadar kesanggupan dari hamba yang memiliki
keterbatasan.
Oleh karena itu, tetap semangat kawan-kawan
saya yang telah diterjunkan dalam medan jihad. Ini adalah “prolog perjuangan”.
Jadilah “Ahmad Dahlan” muda yang mampu mengikuti jejaknya. Berproseslah. Nanti kita akan ketemu tiga tahun lagi di wisuda PUTM dengan
segudang cerita yang mengguncangkan semesta!
Kudus, 4 Agustus 2020.

Komentar
Posting Komentar