Berbicara tentang hal gaib memang sangatlah mengasyikkan. Entah itu di tongkrongan bersama teman sejawat, hingga bersama bapak-bapak yang jokesnya tak lucu alias garing, tetap perbincangan masalah “dunia lain” menarik untuk diobrolkan. Aura magis obrolan per-kuntilanak-an memang menyeramkan, tapi ia memantik rasa penasaran, pengalaman dan candu yang ingin diperdengarkan.
Sejujurnya, saya tak pernah melihat secara langsung hal gaib. Saya tidak pernah melihat mata merah besar di cepitan belakang rumah, sebagaimana kata saudara saya; melihat pocong loncat-loncat di balkon masjid pondok, sebagaimana cerita kawan dulu; atau pengalaman menyeramkan lainnya yang banyak diceritakan di chanel youtube “You Can See What I See”. Meski begitu, saya haqqul yakin, bahwa makhluk gaib itu ada.
Keyakinan ini diperkuat dengan tiga kali saya bersinggungan secara tidak langsung dengan hal-hal gaib yang membuat saya lumayan merinding. Simak baik-baik, ceritanya begini:
Delapan tahun yang lalu ketika duduk di kelas sembilan, setelah rihlah dari Wisata Bahari Lamongan (WBL), saya dan teman-teman memutuskan untuk tidur di sekolahan. Keputusan tersebut saya ambil karena jam sudah menunjukkan tengah malam. Dikarenakan tidak bisa tidur, salah seorang kawan kemudian bercerita bahwa dia bisa memasukkan jin ke dalam tubuhnya. Tentu kami tidak percaya. Namun, akhirnya dia mencoba membuktikannya.
Kawan saya ini menuju ke ruang kelas. Lampunya dimatikan. Pintunya ditutup. Kami semua diminta untuk melihatnya dari luar lewat kaca jendela. “ nek aku gak iso ngontrol, tulung sadarke”, pesannya. Kami mengiyakan. Ancang-ancang dia lakukan sembari menarik nafas dan membaca mantra-mantra enigma. Seketika dia terjatuh dan mengeluarkan raungan berkali-kali. Kurang lebih satu menit dia berada pada keadaan itu.
“mou aku narik siluman macan”, katanya setelah tersadar. Saya hanya bisa terdiam mendengar ucapannya tersebut.
Cerita kedua terjadi enam tahun yang lalu, ketika saya duduk di kelas lima pesantren. Pemeran utamanya ialah salah seorang adik kelas, santri baru. Tiba-tiba dia menangis, sembari mengatakan bahwa di kamar mandi ada “mbak kunti”. Kemudian kejadian ini berlanjut yang menyebabkannya sering kesurupan. Bahkan tiada sehari terlewatkan dia kerasukan jin yang berganti-ganti.
Pernah suatu ketika pukul setengah dua belas malam, saya bersama satu teman berkeliling untuk mengecek kamar setiap santri. Ternyata dia belum tidur. “nggak bisa tidur mas”, bilangnya. Tiba-tiba dia memberi tahu kami bahwa tepat pukul dua belas akan ada pasukan jin yang datang ke pondok.
Kami memutuskan untuk meminta setiap santri yang belum tidur segera berwudhu. Setelahnya kami membuat halaqah untuk melantunkan doa dan ayat-ayat. Di tengah-tengah prosesi, dia berbisik, “pasukannya sudah datang, mas”. Entah mengapa, hawanya tiba-tiba berubah. Merinding. Dia mulai tidak fokus, tak sadarkan diri dan disusul dengan kerasukan. Kurang lebih setengah jam usaha yang kami butuhkan untuk menyadarkannya, setelah dibantu seorang ustadz.
Adapun cerita ketiga terjadi baru-baru ini di pondok pengabdian saya. Pemeran utamanya sama seperti cerita kedua: santri baru. Bermula dari dia tak membawa peci ketika sholat Maghrib di masjid, salah seorang ustadz lantas meminta dia untuk mengambilnya di asrama. Selepas kembali dari asrama, nafasnya terengah-engah. Raut wajahnya pucat ketakutan.
“ada apa”, saya bertanya kepadanya.
“tadi di kamar kelas delapan dan sembilan”, dia tiba-tiba meneteskan air mata, kemudian melanjutkan ceritanya, “ada tiga anak kecil sedang main-main”.
“siapa”.
“nggak tahu, wajahnya hitam nggak jelas, ustadz” jelasnya.
Mendengar cerita tersebut seluruh santri diinstruksikan untuk ngaji di asrama. Baru sekian menit membaca ayat kursi, santri baru ini menangis ketakutan lagi. Kakinya menegang. Tangannya mencengkram.
“itu ustadz di depan pintu”, katanya. Dia kesurupan. Tapi, tak seperti kerasukan pada umumnya, dia hanya sebagian saja. Pikirannya masih sadar, namun sesekali kaki, berpindah ke tangan, lalu ketelinganya terasa panas seperti terbakar. Usaha merukiahnya kami lakukan untuk menetralisasi tubuhnya.
“dia ngejek ustadz”, kata santri ini, “dia membisiki saya, tapi nggak boleh dikasih tahu”.
“katakan saja. Nggak usah takut”.
“mau dipinggilin teman-temannya”, katanya.
Lantunan ayat-ayat suci tak henti-hentinya kami ucapkan. Satu jam berlalu. Kondisinya agak baikan. Dia sudah tak merasakan panas lagi di tangan, kaki, atau telinganya seperti sebelumnya. Namun semenjak kejadian itu, setiap kali mendengar suara adzan, santri ini menutup telinganya karena kepanasan, kemudian diteruskan dengan kerasukan sebagian anggota tubuhnya. Kejadian ini berulang-ulang hingga dua hari berikutnya.
***
Tiga kejadian yang bersinggungan langsung dengan saya di atas ternyata memiliki satu benang merah. Bukan dari kejadiannya, akan tetapi dari asbabunnuzulnya. Ketiga pemeran utama di atas, dari hasil pengakuannya, memiliki histori persinggungan dengan hal-hal transendental. Ia adalah sihir.
Dalam kasus yang pertama, ternyata kawan saya mengikuti bela diri yang di dalamnya terdapat ritual-ritual khusus untuk memberi resistensi lebih kepada tubuh, “kekebalan”. Sedangkan dalam kasus yang kedua, adik kelas saya diwarisi oleh kakeknya kemampuan supranatural, yang menjadikannya bisa berinteraksi dengan hal gaib. Dan dalam kasus yang ketiga, si santri ini pernah diajak kakeknya ikut semacam “kuda lumping” dan diberi pegangan jimat tasbih kecil.
Fenomena di masyarakat semacam kasus di atas ternyata masih banyak dijumpai. Bahkan, kata salah seorang santri, dalam sebuah daerah dekat desanya, memiliki “pegangan” dianggap lumrah. Menggunakan jin untuk kekebalan, openglaris, azimat, dan lain-lain bukan menjadi hal yang tabu. Sudah biasa. Maka tak heran jika banyak kasus kesurupan yang berawal dari persinggungan dengan hal yang berbau klenik ini.
Sebenarnya fenomena ini membuktikan bahwa tinggat pendidikan di masyarakat kita masih rendah. Masyarakat lebih percaya dengan hal-hal yang mistis, dibanding dengan melakukan aksi realistis. Kan jadi lucu ya. Apa hubungannya coba, agar dagangan laku keras, maka taruhlah jimat di atas pintu toko? agar punya pasangan, pakailah semar mesem atau bulu perindu? Atau agar bisa menjawab soal ujian, bacakan jampi-jampi, bakar kertasnya, lalu minum airnya?
Dengarlah Ferguso! Kalau mau dagangan laku ya buatlah produk yang berkualitas, penampilan menarik, dan pelayanan yang profesional. Mau punya pasangan ya cari. Masih banyak di sana akhi-ukhti yang jomblo. Dan kalau mau bisa menjawab soal ujian ya belajar dong!
Saya ketawa sejadi-jadinya ketika di salah satu bakulan Facebook, ada yang menjual barang klenik dengan menulis postingan, “ini gan, jimat penghasil uang, saya jual murah. Lagi butuh duit soalnya”. Lah kalau itu jimat penghasil uang, kenapa nggak pakai jimat itu buat nyari uang? Kok malah dijual? Kan bahlul namanya. Atau mungkin maksud dia dengan kata “penghasil uang” itu dengan cara menjualnya ya? Bisa jadi si. Hahaha.
Ternyata, tak semua yang berkorelasi dengan hal gaib itu menyeramkan. Tapi sesekali ada juga yang perlu untuk ditertawakan.

Komentar
Posting Komentar