Terlihat dalam sebuah video, banyak orang berkumpul ramai. Dengan membawa
alat dokumentasi, mereka bersuka ria ingin mengabadikan momen bersejarah bagi
warga Turki. Bahkan bukan hanya mereka, akan tetapi jutaan orang yang dibuat
kagum dengan keputusan presiden Erdogan, ikut ceria atasnya. Keputusan penting,
krusial dan “ambisius”, yaitu mengembalikan fungsi Hagia Sophia menjadi masjid
setelah 86 tahun dijadikan museum. Dan resmi hari ini, adzan pertama terdengar berkumandang
dari atas menaranya.
Sejarah panjang mewarnai lika-liku Hagia Sophia. Sebuah bangunan yang
megah, elok, kokoh nan mewah yang terletak di Istanbul ini telah beberapa kali
mengalami transformasi fungsi semenjak didirikan pada abad ke-6 M. Tepatnya pada
tahun 537, Hagia Sophia ini selesai dibangun dan kemudian dijadikan sebagai
katedral Kristen kekaisaran Romawi Timur atau yang lebih tersohor sebagai
Bizantium dan disinggahi oleh Patriark Ekumenis Konstantinopel.
Selanjutnya pada tahun 1204, oleh tentara Salib Keempat, Hagia Sophia dikonversi
menjadi katedral Katolik Roma dibawah kekuasaan Kekaisaran latin Konstantinopel, sebelum dikembalikan
lagi menjadi Katedral Ortodoks setelah pembangunan kembali Kekaisaran Bizantium
pada tahun 1261.
Pada tahun 1453, Konstantinopel yang menjadi Ibu Kota Kekaisaran
Bizantiium ditaklukkan oleh Kekaisaran Ottoman, Turki Utsmani, di bawah
pimpinan Sultan Mehmed II atau dikenal dengan “Muhammad al-Fatih”. Terbayang di kepala
saya ketika membaca buku karangan Felix Siauw yang berjudul Muhammad
al-Fatih 1453, bagaimana spektrum penaklukan yang begitu brilian dilakukan
oleh al-Fatih. Sebuah penaklukan yang sudah disabdakan oleh Kanjeng Nabi dalam
sebuah hadits. Momen yang terlau romantis untuk “dinostalgiai”.
Semenjak jatuh dibawah kekuasaan Islam itu, Hagia Sophia dijadikan
sebagai masjid dan aktif sampai tahun 1931. Setelah kurang lebih 478 tahun
menjadi masjid, Hagia Sophia ditutup untuk umum. Baru pada tahun 1935 dibuka
kembali, dengan statusnya sebagai museum oleh Republik Turki yang dipimpin
Mustafa Kemal Ataturk. Konversi masjid sebagai museum itu merupakan bagian dari
reformasi sekuler Ataturk.
Pengembalian Hagia Sophia menjadi masjid tentu menjadi daya tarik untuk
dibicarakan. Media Masa beramai-rami membuat berita. Ratusan ribu orang di
Twitter secara kolosal me-retweet-nya. Mengucapkan hamdalah, pujian, dan berbagai
senandung doa dan harapan. Akan tetapi, pertanyaannya sekarang adalah, apakah kembalinya
Hagia Shopia menjadi masjid pertanda bangkitnya peradaban Islam?
Sebelum menjawab pertanyan tersebut, mari sejenak kita menengok kondisi umat
di zaman modern ini.
Perkataan Muhammad Abduh yang berbunyi “I went to the west and saw
Islam, but no muslims. I got back to the east and saw muslims, but not Islam”,
bisa dijadikan sebuah refleksi keadaan umat Islam masa kini. Ketika Abduh pergi
ke barat, ia melihat bagaimana sebuah pemandangan yang eksotis mencerminkan
Islam. Nilai-nilai Islam nampak di sana. Ilmu pengetahuan berkembang. Etos kerja
tinggi. Ekonomi sejahtera. Namun sayang, bukan orang Islam yang menerapkannya. Namun,
ketika seorang “mujaddid” ini pergi ke timur, fakta mempertontonkan sebaliknya.
Barat sudah move on dari keterpurukan yang mereka alami kala Copernicus dan Galileo menemukan hukum bahwa Bumi
bukanlah pusat alam semesta. Era sekarang merupakan eranya mereka. Nyaris semua
lini kehidupan sekarang ini mereka kuasai. Mulai dari ekonomi, politik dan ilmu
pengetahuan mereka, yang menurut Ibnu Khaldun sebagai kemajuan peradaban, maju
sangat gesit dan cepat.
Sementara itu, umat Islam sekarang masih banyak
pedebatan masalah-masalah “receh”, lalu bersikap responsif dan reaktif
sehingga cenderung hanyut ke dalam bahasa-bahasa peperangan psikis yang
tidak produktif bagi dialog peradaban. Jika meminjam istilah Soekarno, para “Islam
Sontoloyo” seakan melupakan fakta bahwa Islam adalah sebuah agama yang telah
terbukti mampu menjadi obor peradaban yang bermartabat, yang kaya dengan konsep
dan sistem kehidupan yang teratur selama berabad-abad lamanya.
Bisa dikatakan kita sekarang masih
mengekor dengan peradaban barat. Dalam bidang kemajuan intelektual, kita masih
tertinggal jauh. Belum ditemukan di zaman kita sekarang ini seorang filsuf
Islam secerdas al-Kindi dan al-Farabi, dokter sekeran Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd,
astronom sejenius an-Naqqas dan az-Zarkalli, matematikus sepintar
al-Khawarizmi, misalnya. Dalam bidang politik, Timur Tengah masih mencekam. Terjadi
“baku hantam”, percekcokan yang tidak berkesudahan. Sementara dalam hal
ekonomi, sikap materealisme masih nampak adanya.
Maka, sesungguhnya kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid bukan menjadi
pertanda dari kebangkitan peradaban Islam. Sangat “pongah” rasanya jika saya mengatakan
itu sebagai kebangkitan Islam, hingga melupakan kondisi umat Islam yang masih
belum stabil, “amburadul”, “carut marut” ini.
Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri kembalinya Hagia Sophia, sebuah
bangunan yang menyimpan ruh kebangkitan, bisa menjadi pemantik untuk bangkitnya
Islam itu sendiri. Sebuah pemantik yang akan mengobarkan semangat kembalinya
peradaban. Kenangan historis Hagia Sophia setelah ini akan masuk kedalam relung
setiap muslim, yang semoga akan mendorongnya bergerak naik menembus semesta.
Sudah banyak proyek-proyek membangun kembali peradaban Islam yang
ditawarkan oleh para reformis semacam al-Attas dan al-Faruqi dalam hal
islamisasi ilmu pengetahuan, atau Sayyed Hossein Nasr dalam memandang relasi
sains dan agama atau “New Mu’tazilah” ala Hasan Hanafi, misalnya. Tugas kita
sekarang ikut melanjutkan proyek tersebut. Menjadi penyambung estafet kemajuan
peradaban yang akan menciptakan worldview (at-tashawwur al-islami
dalam bahasa Sayyid Qutb) yang masih panjang dari kata finish.
Sebuah diktum “semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu,
sepintar-pintar siasat” dari HOS Tjokroaminoto mungkin bisa menjadi penutup
dalam tulisan ini. Artinya kita butuh tauhid, hal-hal yang bersifat teologis
yang murni. Kita butuh ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu membebaskan
dari kebodohan dan kekeringan akal, serta butuh strategi yang kreatif dan inovatif
dalam membangun kembali peradaban Islam.
Salam Khilafah!
Salam Khilafah!

Komentar
Posting Komentar