Cita-Cita Agung Hasil Merenungi Ibnu Bathuthah di Pucuk Gunung


Kurang lebih sudah dua minggu ini pendakian puncak 29 Gunung Muria dibuka, setelah sekian lama ditutup akibat pandemi Korona. Ini tentunya menjadi kabar gembira bagi para pecinta alam. Berita ini menjelma sebagai oase di tengah gersangnya akal, hati dan pikiran. Dan melukiskan kirana di tengah gelap pekatnya ruang hampa. Menyegarkan dan mencerahkan.

Setelah kawan saya survei untuk memastikan benar-benar dibuka (sebelumnya saya kena prank), akhirnya diputuskan sabtu kemarin (4/7) saya bereskapisme ke gunung yang terletak di tiga kabupaten, Kudus, Jepara, Pati, ini. Berbagai kebutuhan saya siapkan. Berangkat dari rumah pukul lima, satu jam kemudian saya dan kawan saya sampai di basecamp. Suasana malam itu di basecame sangatlah ramai oleh para pendaki yang lain. Parkirannya sesak nyaris penuh.

Tanpa berlama-lama packing, kami langsung tancap gas memulai pendakian. Alasan kami sederhana: agar dapat tempat untuk mendirikan tenda dan bisa tidur nyenyak malam itu. Tak tanggung-tanggung, yang semula waktu standar yang dibutuhkan untuk sampai puncak adalah empat jam, kami tempuh hanya tiga jam. Pukul sembilan kami sudah sampai di pucuk. Bisa dibayangkan bagaimana kecepatan kami dalam berjalan, “ngencep”, dan terengah-engah demi alasan pragmatis tersebut.

Sebenarnya ini adalah pendakian ketiga kalinya saya ke puncak 29. Jika diingat-ingat, puncak yang memiliki ketinggian 1602 ini memiliki historis yang tak bisa saya lupakan begitu saja. Karena, pendakian pertama yang saya lakukan pada tahun 2014 kala itu, sangat berperan dalam menanamkan kecintaan saya kepada alam, khususnya gunung.

Waktu itu, pendakian pertama saya bisa dibilang cukup “nekat”. Tanpa tahu apa yang harus dipersiapkan, baik sebelum dan ketika mendaki, saya dan kawan berangkat untuk menyusuri kegelapan medan Muria. Alhasil, kram menyerang kaki. Ditambah minimnya perlengkapan untuk menghangatkan badan, hampir mati saya terkena hipotermia. Putus asa? jelas. Akan tetapi, meski rintangan begitu sadis menerpa, keindahan puncak menghilangkan kekesalan segalanya, dan melahirkan satu keinginan, cita-cita, pada diri saya.

Melahirkan cita-cita? Iyaa. Jadi ketika di pucuk gunung ditemani dengan awan putih dan mentari yang mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur, saya termenung sembari memandang bumantara. Bukan sembarang renungan. Tetapi renungan akan sosok pelancong muslim yang “nggak kaleng-kaleng”. Ia adalah Ibnu Bathuthah (1304 M).

Ibnu Bathuthah merupakan seorang pengembara yang berasal dari Tangier, Maroko, yang berhasil mengelana sampai Samudra Pasai dan China. Kalau boleh, saya menyebutnya sebagai god father of traveler muslim. Seperti burung meninggalkan sangkar, Ibnu Bathuthah semula pergi meninggalkan kampung halamannya di usia ke-21 untuk melaksanakan haji, kemudian dilanjutkan selama tiga puluh tahun ia habiskan untuk menjelajah hamparan bumi semesta.

Ibnu Bahuthah menyusuri negeri-negeri yang penduduknya mayoritas Islam, atau suatu daerah yang memberlakukan syariat Islam. Dimulai dari Maghribi di Afrika, Tangiers di Maroko ke Jazirah Arab, sampai ke Asia Kecil di wilayah yang disebut para pelancong barat sebagai Bulan Sabit yang Subur, lalu ke anak benua India, dan ujung Pulau Sumatra hingga ke Tiongkok. Maka tak mengagetkan jika Ibnu Bathuthah disandingkan dengan Marco Polo (penjelajah sekaligus pedagang asal Italia), Christopher Colombus si penemu benua Amrerika, atau Vasco da Gama, penemu jalur laut dari Eropa ke Malabar.

Dari travelingnya tersebut, kemudian Ibnu Bathuthah berhasil menciptakan kitab magnum opusnya, Rihlah, yang menjadi kitab babon mengenai perjalanan, politik, perang, perbudakan, perdagangan, budaya kuliner, seks, transportasi, ritual keagamaan, serta pelbagai hal remeh temeh lainnya yang menceritakan setiap daerah yang ia kunjungi.

Di ujung kontemplasi tersebut saya membatin, jika Ibnu Bathuthah berhasrat mengelilingi dunia bertitik tolak dari haji, maka saya berhasrat mendaki seluruh gunung bertitik tolak dari gunung Muria ini. Jika Ibnu Bathuthah tercatat namanya sebagai seorang traveler dalam buku sejarah peradaban Islam klasik, tak ada salahnya nama saya kelak tercatat sebagai pendaki seluruh gunung dalam buku sejarah kontemporer. Jika Ibnu Bathuthah berhasil mengarang kitab berjudul Rihlah, tentu sayapun bisa mengarang kitab berjudul Jibal.

Emangnya salah saya berandai-andai, meskipun terdengar sangat absurd? Jelas dong hei!

Tekat sudah bulat. Mulai dari situlah saya berazzam, bercita-cita “Agung”, jika ada istithaah, saya daki setiap gunung. Mulai dari yang ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Indonesia, tak terkecuali Everest sekalipun. Urusan kapan dan bagaimana persiapannya, saya akan pertimbangkan. Yaa, pertimbangkan. Pertimbangkan untuk munduur. Enggak dong!

Yuk yang mau nemenin saya naik gunung, kita atur jadwal. Siapa tau bukan hanya nemenin sementara, tapi selamanya. Hehe.

Komentar