Kekaguman Saya kepada Gus Ulil Yang "Katanya" Liberal



Memang ada benarnya sebuah ungkapan yang menyatakan “kita benci seseorang itu karena kita belum mengenalnya”. Percaya atau tidak, mendapatkan kabar negatif dari seseorang yang menyebabkan kita terdoktrin sering kali terjadi di diri kita. Hal ini pada gilirannya melahirkan ”persepsi negatif” yang mendorong kita menghakimi seseorang karena doktrin tersebut, padahal kita belum tahu fakta sebenarnya. Namun alih-alih mencari tahu, karena banyak yang menyatakan demikian, seolah-oleh kabar tersebut menjadi hadits mutawatir yang tak memerlukan konfirmasi.

Hal ini terjadi pada diri saya sendiri. Waktu baru semangat-semangatnya belajar Agama, banyak informasi yang saya dapatkan bahwa Ulil Abshar Abdalla, atau yang sering disapa dengan Gus Ulil, adalah seorang yang liberal. Orangnya sesat. Pemikirannya menyimpang. Harus dijauhi pokoknya. Sehingga ketika saya membaca nama cendekiawan yang lahir di Pati 11 Januari 1967 ini,‒baik di buku, internet, media sosial‒diktum pertama yang saya katakan adalah: “iki wong liberal”.

Gebrakan yang dilakukan Gus Ulil memalui lembaga JIL (Jaringan Islam Liberal) pada tahun 2002 dengan sebuah tulisan di Kompas berjudul "Menyegarkan kembali Pemahaman Islam" menjadi titik polemik. Dalam tulisan tesebut, diskursus mendekontruksi kemapanan pemikiran di bidang keagamaan dengan kritik sangat radikal akan tradisi pemikiran keislaman yang sudah mengakar yang didengungkan oleh Gus Ulil banyak mendapat penentangan, bahkan dari A. Mustofa Bisri, mertuanya sendiri. Puncak kulminasinya ialah ketika Forum Ulama Umat Islam mengeluarkan fatwa mati kepada laki-laki lulusan LIPIA tersebut.

Sebagai seorang yang terlanjur memberikan label “liberal” kepada Gus Ulil, saya tak pernah membaca tulisan dan gagasan yang di lontarkan oleh Kiai NU ini. Jika disuruh memilih membaca misalnya,‒meskipun saya tidak hobi membaca‒tentu saya lebih memilih “nderes” tulisan dari Adian Husaini yang menjelma sebagai anti tesis dari pemikiran-pemikiran liberal produk JIL. Lebih baik menjadi konservatif daripada liberal.

Akan tetapi, suatu ketika muncul rasa penasaran saya kepada Gus Ulil. Siapa sebenarnya dia. Lulusan mana. Seanomali apa gagasannya dengan pemikiran Islam yang sudah mengakar sehingga ia distempel liberal. Akhirnya, pada tahun 2018, langkah awal yang saya lakukan adalah mengikuti akun Facebook Ulil Abshar Abdalla, akun resminya.

Saya baca status-status yang Gus Ulil buat. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Dan menjadi kebiasaan saya, setiap Gus Ulil membuat status, pasti saya baca. Bahkan bukan hanya dari Facebook saja saya membaca gagasan-gagasannya, tetapi saya juga mulai tertarik dengan esai-esai yang beliau terbitkan di Alif.id.

Dari status dan esai yang sudah saya baca dan telaah tersebut kemudian saya mulai berani untuk mengambil kesimpulan. Tulisannya renyah untuk dibaca. Gramatikanya terstruktur. Esainya menarik. Konotasinya menyingkap nilai-nilai rohani. Kutipan-kutipannya bersumber dari kiai dan ulama yang kredibel. Temanya kebanyakan tentang tasawuf. Dan tidak ada yang aneh-aneh. Fik Gus Ulil nggak liberal!

Jujur, saya dibuat kagum dengan Gus Ulil. Saya banyak belajar dari intelektual yang pernah nyantri dengan Kiai Ahmad Sahal Mahfuz ini. Tulisan dan esainya banyak memberikan saya inspirasi dalam menulis. Gayanya dalam menjelaskan suatu masalah yang kompleks, konstruksi setiap paragraf yang tersusus secara runtut dan sistematis, penggunaan bahasa Jawa dan istilah-istilah yang unik dalam konteks tertentu, banyak saya tiru.

Kekaguman saya tidak berhenti sampai di situ. Ngaji kitab masterpiece Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin yang diampu oleh Gus Ulil sering saya tonton. Bahkan, di bulan Ramadhan ini, karena ada tambahan Ngaji Kitab Imam al-Ghazali yang lain, Munqiż Min aḍ-Ḍalāl, menjadikan saya semakin intens dengan video-video Gus Ulil. Setiap malam pasti saya tonton di chanel Youtubnya. Kesimpulan saya: baca kitab ala pesantren tradisionalnya mantap. Penguasaan pemahaman turatsnya tidak diragukan. Cara menjelaskannya runtut. Retorikanya memukau. Dan pengusaan sumber sekundernya luas. Kalau boleh meminjam istilah dari Jerome Polin, Mantapu jiwa!

Inilah sosok Gus Ulil yang saya kenal. Semangat muda yang menggelora saat dia menulis di Kompas dulu kini sudah tak lagi nampak. Ada semacam transformasi paradigma pemikiran yang semula liberalis menjadi spiritualis. Perubahan ini diakui sendiri oleh Gus Ulil, dimana fase arogansi yang pernah menjangkitinya mungkin dipengaruhi juga oleh semacam 'youth enthusiasm', semangat kemudaan yang menggebu-gebu, fase yang alamiah dalam perkembangan psikologi seseorang.

Terlepas dari kontroversi yang pernah ia lakukan, Gus Ulil merupakan sarjana muslim yang patut kita ambil ilmunya.

Antum harus setuju! Jika tidak mari kita baku hantam. Tapi boongg. Apasi.

Komentar