Tawakal Sejati dalam Konteks Corona Ala Buya Hamka


Corona semakin menggila. Tercatat, hingga hari ini (29/3), 201 negara sudah terkonfirmasi terkena Covid-19. 512.701 orang sudah terinveksi. 23.495 nyawa sudah hilang direnggut si virus asal Wuhan ini. Di Indonesia sendiri, 1.285 orang positif berparasitisme dengan Corona, dan 114 orang telah kalah berperang dengannya.

Penyebaran virus yang eksponensial ini membuat setiap orang was-was. Angka yang semakin bertambah, mendorong saya setiap jam 16.00 WIB mengecek status dari kawalcovid19 yang ada di Facebook untuk memastikan dan memantau perkembangan terbarunya. Dengan cemas dan penuh harap agar hari ini yang sembuh lebih banyak dan yang maninggal semakin mengecil angkanya. Namun naas, fakta berkata sebaliknya.

Saya sangat geram dengan orang-orang penduduk berfolower ini yang sangat meremehkan pandemi ini. Sudah ada himbauan dari MUI, dikuatkan dengan keputusan NU dan Muhammadiyah untuk menghentikan sementara aktifitas di masjid, e malah masih “keukeuh” untuk menjalankannya. “saya lebih takut sama Allah daripada Corona” kata mereka. Seolah-olah kadar keimanan seseorang ditakar dengan keberanian datang jamaah di masjid di tengah wabah. Siapa yang berani, dialah khairunnas.

Orang-orang yang kayak gini juga berargumen bahwa ajal berada pada kuasa Tuhan. “Percuma kalau tidak ke masjid, lha wong hidup mati di tangan Allah” celetuk mereka. Paham Jabariah yang sangat menyesatkan diam-diam membius mereka. Padahal pendapat seperti itu merupakan argumen yang miskin wawasan, tidak bisa memahami dalil secara komprehensif dan buta maqashid syariah.

Di dalam sebuah konsep tawakal, sesungguhnya terdapat konsep ikhtiar yang mengikatnya. Tawakal dan iktiar ibarat sebuah kepala dan badan seseorang yang mustahil dipisahkan. Sebagaiman yang dijelaskan oleh seorang kader Muhammadiyah dari pulau Sumatra, Prof. Dr. Hari Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang sering disapa dengan Buya Hamka.

Dalam bukunya, Tasawuf Modern, Buya Hamka mendefinisikan tawakal dengan menyerahkan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada Tuhan semesta alam. Artinya, ada ikhtiar dan usaha terlebih dahulu, baru kemudian menyerahkannya kepada Allah.

Dari narasi ulama besar asal Minangkabau ini, maka dapat diketahui antara ikhtiar dan tawakal merupakan dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Tak bisa dikatakan tawakal, manakala belum melakukan ikhtiar dan usaha. ”Tidaklah bernama tawakal, kalau kita tidur di bawah pohon durian, karena kalau buah itu jatuh digoyang angin, kita ditimpanya" ungkap Buya.

Buya Hamka mencontohkan konsep tawakal dalam perspektif historis yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw ketika hijrah ke Madinah. Bersembunyi di dalam gua bukit Jabal Tsur ketika dikejar oleh kafir Quraisy Rasulullah dan Abu Bakar lakukan. Setelah bersembunyi, barulah Rasulullah berkata kepada Abu Bakar, "jangan takut, Allah ada bersama kita".

Oleh karena itu, dalam konteks masifnya penularan virus Corona ini, melakukan 'social distancing' (sekarang istilahnya menjadi physical distancing) dengan tidak berada di kerumunan, tidak keluar rumah, hatta tidak sholat Jumat dan berjamaah di masjid merupakan salah satu bentuk dari tawakal sejati. Itu semua tak lain adalah ikhtiar dan usaha kita dalam menghindari pandemi Covid-19 tersebut.

Ini selaras dengan ungkapan Buya Hamka: "Orang yang menutup kandangnya, takut ayamnya ditangkap musang; orang yang mengunci rumahnya takut maling akan masuk; orang yang memautkan untanya takut akan dilarikan orang; mereka itulah 'mutawakkil', bertawakal yang sejati, tawakal dalam teori dan praktek".

Memang, melakukan 'social distancing', tidak berada di kerumunan, tidak keluar rumah serta tidak sholat Jumat dan jamaah di masjid tidak dapat menangkis nasib, melainkan dengan izin Allah. Tetapi, kita tak boleh lantar terus saja lari kepada takdir, kalau ikhtiar belum sempurna. Jika kita masih nekat untuk melakukan hal tersebut, maka hal itu, meminjam istilah Buya Hamka, termasuk dari "kesia-siaan".

Mari kita taati himbauan dari pemerintah. Tetap waspada dan lakukan hal terbaik yang kita bisa. Di samping kita doakan para perawat yang berada di garda terdepan medan tempur, kita sokong dengan bantuan finensial yang kita mampu. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua selaku umat manusia, untuk andil dalam misi kemanusiaan ini. Dan yakinlah, bahwa kita pasti bisa melewatinya.

Saya berharap semoga pandemi ini segera berakhir, sebelum bulan Ramadhan. Yaa semoga.

Komentar