Di Akhir Tahun Ini, Saya, Kamu, Kita dan Mereka Hidup Bahagia Selamanya


Saya tutup akhir tahun ini dengan membaca buku karangan Yuval Noah Harari yang berjudul Sapiens. Dalam pembacaan buku bestseller internesional tersebut tidak ada narasi, penjelasan dan diksi yang membuat saya terdiam sambil merenung dengan waktu yang lama, hingga sampai pada bab ke-19, yang diberi judul “Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya”. Jika dilihat dari judulnya, yang terlintas dipikiran kita adalah happy ending dari kehidupan Homo Sapiens. Namun judul tersebut hanyalah clickbait yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembahasan di dalamnya.

Dalam bab ini, Yuval mengawali dengan menulis narasi bahwa lima ratus tahun terakhir telah menyaksikan spektrum revolusi yang membuat kita menghela nafas. Bumi telah menyatu menjadi satu lingkup ekologis dan historis tunggal. Ditambah ekonomi tumbuh secara eksponensial, dan umat manusia kini menikmati kekayaan yang berlimpah ruah, yang mana tadinya hanya ada di dalam dongeng-dongeng yang diwariskan secara turun-temurun. Sains dan revolusi industri telah memberikan kepada manusia kekuatan adimanusia dan energi yang pada dasarnya tidak terbatas. Tatanan sosial telah berubah sepenuhnya, demikian pula politik, kehidupan sehari-hari, dan juga psikologi manusia.

Lantas apakah kita sebagai manusia menjadi lebih bahagia dengan hal tersebut?

Inilah poin utama yang menjadi sorotan dari bab ini. Sebuah pertanyaan kontroversial yang ditujuan kepada kita selaku pembaca buku yang telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa ini. Dengan berkembangnya setiap lini kehidupan yang menjadikan kita sebagai manusia pragmatis-modernis, apakah hal tersebut lantas menjadikan kita bahagia?

Jika kita mundur lebih jauh lagi, 70.000 tahun silam revolusi kognitif mengawali sejarah perjalanan Homo Sapiens yang mengantarkan kepada makhluk superior jauh di atas homo-homo (genus) lainnya. Yang awalnya tinggal di Afrika Timur saja, menjadi penjelajah dunia hingga Australia. Kemampuan bergosip antara satu dengan yang lain menjadikan Homo Sapiens hidup dalam realitas fiksi. Ia menjadi penyebab kuatnya hubungan, yang tidak bisa dilakukan oleh hewan-hewan yang lainnya.

Lantas, apakah yang awalnya Homo Sapiens menjadi pemburu dan pengumpul, di mana kesehariannya kala itu disibukkan dengan pergi ke hutan mencari apa yang bisa dimakan, serta kehidupan nomaden yang tidak teratur, dibandingkan dengan sekarang yang cukup pesan GoFood dan hanya menunggu di rumah, apa yang kita ingin makan akan tersedia menjadikan kita hidup bahagia?

Atau jangan-jangan Homo Sapiens yang pada 10.000 tahun silam mencurahkan nyaris seluruh waktu dan upayanya untuk memanipulasi kehidupan segelintir spesies hewan dan tumbuhan (zaman ini disebut dengan revolusi pertanian), di mana sejak matahari terbit sampai matahari terbenam ia menebar biji, menyirami tanaman, mencabuti gulma dari ladang dan menggiring domba ke padang subur, mereka jauh lebih bahagia dari kita yang sekarang hidup dalam perkembangan sains yang besar-besaran?

Sebenarnya apa itu tolak ukur suatu kebahagiaan?

Menakar Kebahagiaan

Sejumlah cendekiawan mengatakan bahwa kebahagiaan dihitung dari perkembangan dari Homo Sapiens. Teori ini berpandangan pastilah kita yang hidup di zaman modern sekarang lebih bahagia daripada leluhur kita di zaman pertengahan; dan mereka pastilah lebih bahagia daripada para pemburu-pengumpul zaman batu. Akan tetapi teori ini tidak selamanya benar. Ketika manusia belajar bertani, memang kemampuan kognitifnya meningkat. Namun, kehidupan banyak individu malah bertambah keras. Kaum tani harus bekerja ekstra keras daripada pemburu-pengumpul untuk mendapatkan makanan yang bervariasi dan bergizi, dan mereka jauh lebih terpapar penyakit dan eksploitasi. Dengan demikian, tidak ada korelasi yang jelas antara kekuasaan dan kebahagiaan.

Sejauh ini kita berasumsi bahwa kebahagiaan bersumber dari faktor-faktor material, seperti kesehatan, makanan, dan kekayaan. Bila seseorang memiliki uang dan harta berlimpah, rumah mewah, makanan enak nan lezat, serta lebih sehat, maka mereka pasti lebih bahagia. Namun apakah memang sesimpel itu?

Yuval menjelaskan, dalam beberapa dasawarsa terakhir, ahli-ahli psikologi dan biologi telah menjawab tantangan untuk mempelajari secara saintifik apa yang menjadikan seseorang benar-benar bahagia. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mendefinisikan bahagia dengan sesuatu perasaan kenikmatan langsung ataupun kepuasan jangka panjang terkait dengan kehidupan yang sedang dijalani. Kebahagian terletak di dalam diri. Sehingga ahli-ahli psikologi biasanya memberikan angket-angket kebahagiaan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “saya merasa puas dengan keadaan saya, “saya merasa hidup saya bermakna”, dan “hidup ini menyenangkan”.

Sedangkan ahli-ahli biologi berpendapat bahwa kebahagiaan subjektif ditentukan oleh sistem kompleks saraf, neuron, sinapsis, dan berbagai zat biokimiawi seperti serotonin, dopamin, dan oksitosin. Kepuasan terhadap suatu keadaan bukan tergantung pada apa yang manusia dapatkan, namun semua itu semata-mata karena sensasi-sensasi nikmat dalam tubuh mereka. Ia merasa puas, bermakna, ataupun bahagia karena hormon yang melonjak dalam aliran darahnya dan badai sinyal listrik yang menyambar-nyambar di antara bagian-bagian berbeda otaknya. Bukan pernikahan yang membuat seseorang bahagia, akan tetapi serotonin, dopamin, dan oksitosin lah yang menyebabkan pernikahan sehingga menjadi bahagia.

Bila kebahagiaan ditakar kepada sensasi nikmat, maka kita hanya butuh merekayasa ulang sistem biokimia kita. Begitu juga bila kebahagiaan didasarkan kepada merasakan bahwa hidup itu bermakna, maka agar kita merasa bahagia, kita butuh untuk menupu diri sendiri secara lebih efektif.

Kedua pandangan di atas berasumsi bahwa kebahagiaan adalah suatu perasaan subjektif (tentang nikmat atau makna). Sehingga ketika saya ingin menilai tingkat kebahagiaan antum misalnya, maka cukup bagi saya untuk bertanya apa yang antum rasakan selama ini. Apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang indah dan apa yang jelek, apa yang harus terjadi dan apa yang tidak boleh terjadi, semua itu ditentukan oleh apa yang antum rasakan. Namun, kata Yuval, pandangan ini hanya dimiliki oleh liberalisme yang menjunjung tinggi perasaan subjektif sebagai otoritas kebahagiaan.

Sampai sini saya masih belum menemukan kejelasan dari apa yang dijabarkan oleh Yuval terkait dengan bahagia. Yang ada malah judul yang menipu tersebut membuat saya tidak bahagia. Namun yang pasti, kata Yuval, para cendekiawan baru memulai mempelajari riwayat kebahagiaan beberapa tahun silam, dan kita sekarang masih merumuskan hipotesis-hipotesis awal. Di samping itu, juga kita sedang menggali metode-metode yang sesuai terhadap kebahagiaan. Masih terlalu dini untuk menetapkan kesimpulan tegas dan mengakhiri perdebatan yang baru saja dimulai. Yang penting adalah mengetahui sebanyak mungkin pendekatan yang berbeda dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang benar.

Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin menukil perkataan imam al-Ghazali terkait dengan kebahagiaan yang ia sebutkan dalam kitab Kimiya’ as-Sa’adah bahwa, kebahagiaan yang hakiki adalah manakala kita mampu mengenal Tuhan (ma’rifatullah) dan cinta kepada-Nya (mahabbatullah). Sedangkan puncak dari kebahagiaan adalah mampu melihat Allah di akhirat kelak.
Orang yang hatinya telah dikuasai cinta kepada Allah tentu akan menghirup lebih banyak kebahagiaan dari penampakan-Nya dibanding orang yang hatinya tidak didominasi cinta kepada-Nya. Keadaan keduanya seperti dua orang yang sama-sama bermata tajam melihat wajah yang cantik. Orang yang mencintai pemilik wajah itu akan lebih berbahagia saat menatapnya ketimbang orang yang tidak mencintainya. (Hujjatul Islam al-Ghazali dalam Kimiya' as-Sa'adah)

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى وَأَهْلِى وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
Ya Allah, saya memohon kepada-Mu cinta-Mu, dan cinta orang yang mencintai-Mu, dan amal yang menyampaikan cinta kepada-Mu. Ya Allah, jadikan cinta kepada-Mu lebih saya cintai dibanding cintaku kepada diriku sendiri, keluargaku, dan dari air yang dingin.

Jangan lupa bahagia di akhir tahun dan awal tahun ini dengan caramu sendiri! :)

Komentar