Tugas micro teaching
mengantarkan saya kepada pengetahuan akan perkembangan peradaban Islam pada
abad keemasannya. Kalau boleh cerita, ini merupakan tugas untuk membuat sebuah RPP yang diambil
dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Dari buku tersebut,
kemudian saya mendapati judul yang memikat perhatian yang tertera pada pdf kelas dua belas semester akhir;
Rahmat Islam bagi Alam Semesta.
Romantisme masa lalu
kejayaan Islam membuat saya kagum, berbangga dengan Agama, karena pada saat
itu, Islam sukses
menjadi pusat perhatian peradaban. Akan tetapi, di satu sisi membuat saya malu
dengan diri sendiri, yang masih hobi “rebahan” lagi malas mencari ilmu. Waktu
kosong bukan saya manfaatkan untuk menggali lebih dalam ilmu yang sudah
dicurahkan oleh para sarjana muslim, akan tetapi saya asyik baca firman-firman julid netijen, halahh. Padahal
ilmu yang bisa digali dari epistemologi Islam itu anlimitit. Buanyak.
Maka benar sebuah khabar mengatakan: “al-islām maḥjūb bi al-muslimīn”. Kemuliaan, kesempurnaan, rahmat
Islam tertutupi oleh perilaku orang Muslim sendiri.
Investigasi
dari Hossein
Askari terkait di negara manakah yang paling banyak menerapkan nilai-nilai
Islam,
menjadi bukti konkret
akan hilangnya nilai-nilai Islam dari pemeluknya. Dari 208 negara yang
diteliti, ternyata tak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar. Lebih lanjut, guru besar politik dan bisnis
internasional di Universitas George Washingto ini menjelaskan, negara yang paling islami adalah Irlandia,
Denmark, Luksemburg dan Selandia Baru yang bukan negara berasaskan Islam. Sedangkan negara yang memiliki nilai-nilai
keislaman, seperti Malaysia, hanya menempati peringkat 33, Kuwait peringkat 48,
Arab Saudi di posisi 91 dan Qatar di strata 111.
Maka wajar jika Askari mengatakan: “Kami menggarisbawahi
bahwa banyak negara yang mengakui diri Islami tetapi justru kerap
berbuat tidak adil, korup, dan terbelakang. Faktanya mereka sama sekali
tidak Islami. Jika sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan,
korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kebebasan, kesenjangan
sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu
tidak menunjukkan ciri-ciri Islami,”. Komentar ini menjadi pukulan telak bagi kita; umat Islam di era sekarang ini.
Sungguh pada abad ke 8-14 M, sebagaimana pendapat Toby E. Huff dalam bukunya; The Rise Of Early Modern Science, Islam menjadi agama yang super power.
Dalam masa ini, Prinsip-prinsip dasar Islam tegak, worldview Islam
tertancap mantap, sehingga Islam menjadi obor peradaban, mata air pengetahuan
dan tampuk intelektual. Perkataan dari Jacques C. Reister bisa dijadikan hujjah,
bahwa selama 500 tahun, Islam menguasai dunia dengan kekuatan, ilmu
pengetahuan, dan peradabannya yang tinggi. Bahkan, Montgomery Watt sampai
berani mengakui, peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka
sendiri. Tanpa dukungan dari peradaban Islam yang menjadi “dinamonya”, Barat
bukan apa-apa. Keren
tho?
Sejarah telah menggambarkan bagaimana kemajuan Islam pada masa
tersebut, puncaknya ketika zaman dinasti. Yaitu era di mana para intelektual
muslim bukan hanya menguasai bidang keilmuan yang mereka pakar di dalamnya,
akan tetapi juga bidang keilmuan yang lain, sehingga karya mereka sukses menghiasai
berbagai bidang keilmuan, baik dari bidang filsafat, kedokteran, astronomi, fisika,
kimia, matematika, fikih dan lain sebagainya
Dalam bidang filsafat misalnya, sosok Ibnu Sina (980 M) membuat
saya terkagum-kagum. Ia bukan hanya dikenal sebagai bapak kedokteran dunia,
juga seorang filsuf yang banyak mengarang karya ilmiah. Seperti al-Inṣāf, yang memuat 28.000 masalah filsafat yang ia tulis dalam
waktu enam bulan saja. Jika kita bagi, Ibnu Sina dalam
sehari mampu menulis kurang lebih 156 permasalahan, artikel, atau jurnal. Ini
bukti kejeniusan seorang filsuf yang dikenal dengan nama Avicenna ini.
Kalau dibandingkan dengan saya, duh, merasa
diri ini bahlul banget. Jangankan 156 artikel dalam sehari, lha wong satu artikel saja
saya butuh waktu dua minggu untuk membuatnya. Satu hari cuman jadi judulnya tok
paling. Kalau ditinjau dari perspektif gedget, Ibnu Sina ibarat iPhone 11 Pro
Max yang sudah menggunakan Chip A13 Bionic Neural Engine, ditambah memori
dengan kapasitas mencapai 512 GB yang tentu lancar jaya kalau dibuat main PUBG.
Sedangkan saya hanya ibarat Nokia 3310, hanya bisa dibuat main game snake yang
game over kalau kena tubuhnya sendiri itu. Hinna beud.
Lanjut, dalam sejarah filsafat Arab-spanyol, Abu Bakar Muhammad ibnu
as-Sayigh atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Bajjah (1085 M) menjadi tokoh utamanya. Cendekiawan
yang lahir di Saragosa ini mengemukakan permasalahan-permasalahan yang bersifat etis
dan eskatologis. Karya monumentalnya adalah Taḍbīr al-Mutawaḥḥid. Selain
Ibnu Bajjah, Abu Bakar ibnu Thufail (1105 M) juga menjadi intelektual yang
sukses memberikan sumbangsih khazanah keilmuan dalam bidang kedokteran,
astronomi, dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay
ibn Yaqzhan yang ditulis pada abad ke-12 M.
Itu dari bidang
filsafat. Adapun dalam bidang kedokteran, lahir para intelektual muslim dengan karya-karya agung
nan fenomenal. Ibnu Sina adalah tokoh yang paling terkemuka dalam bidang
ini. Al-Qānūn fī at-Tibb menjadi magnum opus-nya di bidang
kedokteran. Yang membuat kekaguman saya bertambah kepada Ibnu Sina adalah, ia
menjadi dokter pada usia 17 tahun. Jika dilihat dari strata pendidikan di
Indonesia, Ibnu Sina kala itu diibaratkan duduk di kelas 12 SMA. Warbyasah. Distingsi ini sangat juauh
jika disandingkan dengan saya ketika kelas 12 yang masih lihat garapan teman
kalau ada PR matematika, fisika atau biologi.
Selain Ibnu Sina, sosok yang di Barat lebih dikenal
dengan nama Averous juga ikut menyumbangkan goresan-goresan pengetahuannya. Dia
adalah Ibnu Rusy (1126 M), seorang filsuf, dokter, sekaligus pakar fikih dari
Andalusia. Buku berjudul al-Kulliyat menjadi salah satu buku saintifik
pertama mengenai fungsi jaringan-jaringan kelopak mata yang berhasil ia karang.
Bukan hanya dari kaum adam saja, nama Ummi al-Hasan binti Abi Ja’fat dan saudara
perempuan al-Hafidz sukses menjadi ahli kedokteran dari kalangan hawa.
Di bidang astronomi, Ibrahim ibnu Yahya an-Naqqash
(1029 M) yang dapat menentukan
terjadinya gerhana matahari dan berapa lamanya, membuat saya mlongo.
Bagaimana tidak, mengingat kalkulator baru ditemukan oleh Pascal Blaise pada
tahun 1642 M, mengharuskan an-Naqqash menghitung rumus yang super njelimet
itu secara manual.
Lha wong saya saja menghitung waktu shalat dalam mata kuliah Falak menggunkan
microsoft exel masih
sering salah input angka. Apa lagi kalau hitung manual, sudah syntax error
kognisi saya. Tak berhenti sebagai pencipta rumus
mengetahui gerhana, an-Naqqash juga berhasil membuat teropong modern astronomi yang
dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang.
Kebencian saya dalam pelajaran matematika menjadi
bukti kurangnya penghargaan
yang saya berikan kepada ilmu ini. Padahal dalam bidang ini jutaan orang tidak menyatari, telah lahir seorang profesor muslim bernama al-Khawarizmi. Tokoh yang lahir
tahun 770 M di Khwarizm, kota di selatan sungai Oxus ini merupakan penemu angka
nol dan juga cabang ilmu matematika; algoritma. Tidak berhenti sampai di situ,
kekerenan al-Khawarizmi juga dibuktikan dengan dipergunakannya risalah-risalah
aritmatikanya, seperti kitab al-Jam’a wa at-Tafrīq bi al-Ḥisāb al-Hind,
Algebra dan al-Maqāl fī Ḥisāb al-Jabr wa al-Muqābalah oleh
universitas di Eropa hingga abad ke-16.
Dalam bidang fisika, saya berbangga dengan Abdul Rahman
al-Khazini di
mana pada tahun 1121 M ia menulis kitab Mizān al-Ḥikmah
(The Scale of Wisdom). Di dalamnya
membahas tentang tabel berat jenis benda cair dan padat dan berbagai teori
tentang fisika. Nama Jabir ibnu Hayyan ikut serta dalam pengabadian namanya
dalam buku-buku tokoh hebat muslim pada abad keemasan. Ia diakui dalam
kepakarannya dalam ilmu kimia. Ide-ide brilian Jabir sekarang dikenal sebagai
dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal,
non-metal, dan pegurian zat kimia.
Tak ketinggalan dalam bidang sejarah, muncul
seorang pelancong bernama Ibnu Bathuthah (1304
M) dari Tangier yang berhasil mengelana sampai Samudra
Pasai dan China. Kalau
saya menyebutnya sebagai traveler muslim. Dari tripnya tersebut,
kemudian Ibnu Bathutha berhasil menciptakan kitab Rihla yang menjadi
kitab babon mengenai politik, perang, perbudakan, perdagangan, budaya kuliner,
seks, transportasi, ritual keagamaan, serta pelbagai hal remeh temeh lainnya yang
menceritakan setiap daerah yang ia kunjungi.
Dalam ranah fikih tak mau ketinggalan mengalami kemajuan yang pesat,
dengan ditandai dengan lahirnya
ulama-ulama besar di bidang hukum Islam dan para imam mazhab. Di antara
tokoh fikih yang terkenal adalah empat imam pendiri mazhab fikih; Abu Hanifah (699 M), Malik bin
Anas (711 M), Imam Syafii (767 M), dan Ahmad bin Hambal (780 M) yang juga terkenal sebagai ahli Hadits. Kalau saya
mah ahli hadats, hehe. Selain mereka, masih banyak tokoh-tokoh pakar fikih yang
lain, seperti Abu Bakr ibnu al-Quthiyah, Munzir ibnu Said al-Baluthi, Ibnu Hazm,
al-‘Auza’i dan lain-lain.
Di samping pada aspek hukum syariat, aspek spiritual juga mengalami kemajuan.
Tasawuf merupakan bagian dari aspek keagamaan dalam Islam yang menyentuh sisi ruhiyah (spiritual). Lahir para sufi
(bukan suka film ya) yang memiliki kharisma luarbiasa, di antaranya adalah;
Rabiah al-Adawiyah (713 M), al-Hallaj
atau Abdul Muqith al bin Mansyur al Hallaj (858 M), Abdul Farid Zunun al-Misri
(773 M), dan Abu Yazid al-Bustami (874 M). Tak ketinggalan Ḥujjatul Islām; imam al-Ghazali
(1058), yang berhasil mengarang kitab babonnya tasawuf; Iḥyā ‘Ulūm ad-Dīn.
Tokoh-tokoh yang sudah saya sebutkan di atas merupakan para intelektual
muslim yang sukses mengabadikan namanya dalam perbendaharaan kitab klasik
maupun modern. Hal itu dikarenakan karya-karya mereka masih dikaji, diteliti,
bahkan dijadikan pegangan sampai sekarang ini. Maka selayaknya kita patut
berbangga, Islam telah melahirkan para sarjana yang berpengaruh bagi peradaban
ini.
Akan tetapi, berbangga dengan meraka semua belum cukup. Selayaknya profesor-profesor
tersebut dikenalkan kepada generasi muda sekarang. Langkah konkretnya, dalam
mata pelajaran, bisa dengan memperkenalkan mereka kepada siswa sesuai dengan
bidangnya masing-masing.
Misalnya dalam pelajaran matematika, beritahukan kepada murid bahwa ada
lho seorang intelektual muslim yang berjasa besar dalam ilmu ini;
al-Khawarizmi. Atau dalam ilmu fisika, telah lahir intelektual muslim yang
bernama al-Khazani, begitupun dalam pelajaran-pelajaran yang lain. Dengan begitu,
menurut saya, murid akan termotivasi, oh ternyata ada ilmuan matematika,
fisika, kimia yang beragama Islam di mana mereka memberikan sumbangsih
pengetahuan bagi dunia. Ketika murid termotivasi, maka akan mendorong lahirnya kembali "tradisi ilmiah". Semoga dengan demikian akan muncul kembali intelektual-intelektual
muslim yang mampu menjadi pusat perhatian dunia.




Mantap euy... Lanjutkan....
BalasHapusSiyap qaqa
Hapus