Pada hari ini, 18 November 2019, tepat 107 tahun berlalu dari kelahiran
organisasi Islam di Indonesia; Muhammadiyah, menurut perhitungan Masehi. Milad
Muhammadiyah dengan tema “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” ini akan digelar di
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dengan perkiraan akan dihadiri oleh 10.000
warga Persyarikatan. Saya mengucapkan selamat milad ke-107 kepada Muhammadiyah,
semoga dedikasi kepada agama dan negeri semakin banyak lagi.
Jika berbicara tentang organisasi yang didirikan pada tahun 1912 ini,
rasanya tidak bisa dipungkiri kesuksesannya dalam memberikan sumbangsih yang
luar biasa kepada Indonesia, baik dari sebelum kemerdekaan hingga sekarang ini.
Ketika sebelum kemerdekaan, tentunya peran pendiri; KH Ahmad Dahlan dan
istrinya; Siti Walidah patut diapresiasi. Kedua tokoh ini telah bergerak dengan
mendobrak kemapanan dalam mencerdaskan dan memajukan bangsa, sehingga diangkat
menjadi pahlawan nasional.
Di samping itu Srikandi Aisyiyah, Hayyinah dan Munjiyah menjadi
pelopor dan pemrakarsa bersama pergerakan perempuan lainnya untuk lahirnya
Konges Perempuan Pertama tahun 1928. Tak ketinggalan, Kyai Mas Mansur menjadi
tokoh Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantoro
dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia. Ki Bagus Hadikusumo didukung Kahar
Muzakkir dan Kasman Singodimedjo menjadi penentu konsensus nasional penetapan
UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945 sebagai konstitusi dasar sekaligus penetapan
Pancasila sebagai dasar negara.
Dalam
melakukan perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan kontribusi Muhammadiyah
terbesar melalui Soedirman adalah perang gerilya dan melahirkan serta menjadi Bapak
Tentara Nasional Indonesia yang tiada duanya. Gerakan cinta tanah air ini
bermodalkan spirit Hizbul Wathan atau Kepanduan Tanah Air yang dirintis tahun
1918, di mana Soedirman menjadi pandu utamanya.
Berdirinya 4623 TK/TPQ Aisiyah/ Muhammadiyah,
2604 SD/MI Muhammadiyah, 1772 SMP/MTS Muhammadiyah, 1143 SMU/SMK/MA
Muhammadiyah, 67 pondok pesantren dan 174 perguruan tinggi menjadi bukti
konkret dedikasi Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan
dalam bidang sosial, 2119 Rumah sakit menjadi bukti yang tidak terbantahkan
atas keloyalitasan Muhammadiyah terhadap Indonesia. Di samping itu, Muhammadiyah
juga memiliki 318 panti asuhan, 54 panti jompo, dan 82 rehabilitasi cacat. oleh karena banyaknya pencapaian-pencapaian yang telah diraih, tidak berlebihan jika Muhammadiyah memperingati Milad untuk menambah spirit perjuangannya.
Hukum Melaksanakan Milad
Kembali lagi terkait dengan milad Muhammadiyah, muncul sebuah pertanyaan,
bagaimana sebenarnya hukum merayakan milad itu sendiri? Apakah diperbolehkan
seorang muslim untuk merayakannya, atau dilarang? Dalam masalah ini, saya akan
mengutip jawabannya dari buku Tanya Jawab Agama Jilid 4 sebagai berikut:
Dalam buku yang dikarang oleh Tim Majlis Tarjih dan Tajdid PP
Muhammadiyah tersebut dijelaskan, bahwa memperingati hari lahir, baik seseorang
maupun organisasi, tidak ada nash baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah yang
menerangkan tentang hal ini. Dengan kata lain, tidak ada nash yang menganjurkan
untuk merayakan ataupun nash yang melarang untuk melakukannya. Sehingga dengan
demikian, terkait dengan masalah ini dimasukkan dalam perkara ijtihadiyyah,
sehingga sangat memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat.
Merayakan milad merupakan masalah muamalah, bukan masalah ibadah. Oleh karena
itu, berlakulah sebuh kaidah fikih: al-aṣl fi al-mu’āmalāt al-ibāḥah hatta yadulla ad-dalīl ‘alā taḥrīmihi (pada dasarnya hukum segala muamalah
adalah boleh, sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya). Dari kaidah di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa merayakan milad adalah boleh. Kebolehan tersebut
tentunya dengan catatan dalam perayaannya, harus jauh dari hal-hal yang
bertentangan dengan ajaran agama sendiri, seperti menjurus kepada kemusyrikan,
kemaksiatan atau kemungkaran.
Bahkan jika dalam
peringatan tersebut terdapat nilai-nilai kemaslahatan dalam bingkai maqāṣid
asy-syārī’ah, seperti menambah keimanan, menjadi syiar agama, dan
mendekatkan diri kepada Allah, maka hal tersebut dianjurkan. Sebagaimana firman
Allah dalam surat Ali Imran ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaknya
ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
orang kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan merekalah
orang-orang yang beruntung”.
Dari penjabaran di atas,
maka dapat diambil kesimpulan bahwa perayaan milad Muhammadiyah merupakan hal
yang diperbolehkan. Jadi nggak usah galak-galak mengatakan bidah, kafir, sesat,
finnar, ambyarrr. hehe

Komentar
Posting Komentar