Mengantuk merupakan kondisi yang pernah dialami oleh setiap insan yang
bernyawa. Ini merupakan kondisi di mana mata ingin terpejam, retina tak bisa
menangkap bayangan dengan sempurna, klavikula antara cranium dengan thorax yang
sudah berat menyangga kepala, ditambah kognisi yang tidak mampu untuk diajak konsentrasi,
dan tubuh sangat ingin merebah. Bahkan melihat guling saja seperti melihat
cewek seksi yang menggoda maha dahsyat untuk segera dipeluk mesra.
Mengantuk merupakan situasi yang tidak dapat dihindari. Mengantuk pada
situasi tertentu akan membahayakan dan merugikan, baik untuk diri sendiri
maupun orang lain. Misalnya mengantuk pada saat mengemudi, adalah sangat
berbahaya tatkala seseorang sedang mengendarai mobil atau motor dalam keadaan
mengantuk. Dilansir dari CNBC, satu dari sepuluh kecelakaan disebabkan karena
pengemudi mengantuk.
Dari hal itulah, muncul trobosan-trobosan baru dan progresif untuk
mengetahui bahwa pengemudi sedang mengantuk, dengan harapan agar ia
beristirahat sejenak hingga hilang rasa kantuknya. Misalnya penelitian dari
Imanudin (2019) mendeteksi mata mengantuk pada pengemudi mobil menggunakan
metode viola jones, atau Irawan (2019) menggunakan library python.
Di samping seorang pengemudi yang sering mengantuk, rasanya kurang afdhal
ketika tidak mengikutsertakan “santri” sebagai top global ngantuk. Bagi seorang
santri, mengantuk merupakan teman akrab dalam menjalani dinamika kehidupan
sehari-hari di pesantren. Ketika sehari saja tidak mengantuk, terlebih tidur di
kelas, rasanya dalam hidup ada yang kurang. Saya pun mengalami akan hal ini.
Dari TK sampai MTs, tidak pernah mata saya terasa berat dan mengaharuskan
untuk memosisikan badan untuk tidur di bangku sekolahan. Dengan kata lain,
tidak pernah rasa ngantuk mendatangi saya ketika sedang di kelas pada masa itu.
Akan tetapi semua itu berubah ketika masuk MA, di mana saya memutuskan untuk
mondok.
Ketika menjadi santri, mengantuk dan tidur di kelas merupakan suatu keniscayaan.
Siapapun gurunya, baik itu laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda; Bahasa
Inggris yang diampu oleh Bu Wid maupun Ustadz Umar dengan Bahasa Arab,
mengantuk merupakan kondisi yang tidak bisa dihindari. Juga bukan hanya saya
saja yang mengalami, siapapun santrinya, baik pinter maupun sedikit pinter, cewek
ataupun cowok, senior maupun junior, pasti mengalaminya. Pasti!
Ada sebuah cerita, pada semester tiga dulu, mata kuliah wajib yang harus
saya ikuti di PUTM adalah tafsir Ibnu Katsir yang diampu oleh Ustadz Endi
Prasetya. Kuliah yang ini dilaksanakan malam hari setelah Isya ini menggunakan
rujukan kitab Tafsīr
al-Qur’ān al-‘Aẓīm,
sebuah kitab tafsir bercorah bil ma’ṡūr karya Ibnu Katsir. Sebelum Ustadz
datang kami mengobrol biasa, sesekali diselingi punch line untuk memecah suasana,
tentunya tidak ada rasa mengantuk sama sekali.
Namun tatkala Ustadz
masuk ke kelas dan memulai pelajaran, wuuussshht, mulailah virus itu
datang. Perkataan Ustadz seakan mengandung mantra yang meninabobokan saya dan
teman-teman. Mengantuk pun tak terelakkan. Olek karenanya, ada aforisme yang
indah untuk melukiskan kondisi ini: jā’a al-ustāż jā’a asy-syaiṭān, żahaba
al-ustāż żahaba asy-syaiṭān (ustadz datang, syaitan juga datang, ustadz
pergi, syaitan ikut pergi).
Begitu juga tatkala hari senin setelah subuh, adalah jam mata kuliah
ngaji kitab Nailul Auṭār bersama Ustadz Ahmad Muhajir. Awal masuk
saya dan teman-teman memperhatikan dengan seksama dan intens setiap materi
pelajaran yang dibacakan oleh teman saya. Akan tetapi, lama kelamaan,
mikroorganisme yang tidak bisa dilihat menggunakan mikroskop secanggih apapun ini
mulai menyerang. Hasilnya, bukan hanya saya dan teman saya saja yang mengantuk,
bahkan sudah ada yang terlelap, kepala ustadz yang sesekali memunduk kemudian
dibetulkan tegak lagi dan menunduk lagi merupakan qarinah bahwa ustadz juga
mengantuk.
Mengantuk merupakan
virus yang sangat dahsyat efek penularannya yang harus diketahui sebabnya. Jika
dilihat dari situs Aladokter.com, ada sembilan penyebab seseorang mengantuk,
yaitu; (1) kurang tidur, (2) siklus tidur alami tubuh, (3) dehidrasi, (4) efek
samping obat-obatan, (5) kafein, (6) alkohol, (7) gangguan tidur, (8) menderita
penyakit tertentu, dan (9) masalah psikologis.
Menurut saya,
kesembilan penyebab mengantuk di atas bersifat subjektif, sesuai dengan kondisi
tubuh setiap individu yang berbeda-beda. Saya misalnya, sebab nomer satu, bagi
saya sendiri tidak berlaku. Karena tidur jam 21.00 bangun jam 04.00, sudah
terbilang cukup untuk waktu tidur. Akan tetapi, ujung-ujungnya juga masih tetap
mengantuk paginya. Sumpah. Atau nomor tiga, sebanyak apapun minum, kalau ujungnya
ngantuk yang tetap saja pasti tidur.
Oleh karena itu, kalau
ditinjau dari perspektif uṣūl al-fiqh, ‘illah (kausa) itu harus
bersifat munḍabiṭah (terukur). Artinya, ‘illah itu harus bisa
diindra dan diukur, serta tidak bersifat subjektif. Sehingga, menurut saya tak
lain dan tak bukan, ‘illah dari mengantuk adalah “santri” itu sendiri. Tentunya
pendapat saya ini saintifik dan sudah teruji dari pengakuan setiap
santri yang pasti dan pernah mengantuk. Hahaha
Dari narasi saya di
atas ini, saya jadi ingin mendengar dialog antara seorang dokter dengan
pasiennya begini:
“maaf, bapak sakit
apa?”
tanya seorang dokter kepada pasiennya.
“nggak bisa tidur
dok, insomnia”,
memelas si bapak dengan kulit sekitar mata yang agak menghitam, dengan harapan
dokter memberikannya obat Alprazolam, Lorazepan atau pun Estazolam.
“ohh, itu mudah pak
obatnya, silahkan bapak nyantri, insyaa Allah penyakit bapak akan segera
terobati”,
jawab dokter tersebut dengan ketawa jahad khas Joker.

Komentar
Posting Komentar