Setelah kurang lebih dua bulan setengah pikiran saya berparadigma media
pembelajaran, analisis pengembangan kurikulum, statistik, metopen, micro
teaching, dan makul PAI lainnya, pada hari sabtu (10/11) saya dan tiga
sahabat saya; Rijal, Ikhwan, dan Ichsan, memutuskan untuk bereskapisme ke gunung
Andong. Sebenarnya agenda muncak ini sangat mendadak, mungkin hanya dua hari
sebelum hari H ada kepastian. Biasanya kalau direncanakan dari jauh-jauh hari,
yang ada hanya diskursus. Ora sido muncak. Oleh karenanya mendadak nggak
masalah, yang penting hayyuukk meluncuur.
Saya memutuskan untuk mendaki lewat basecamp Sawit. Perjalanan dari
asrama saya, Unires UMY ke basecamp gunung yang terletak di Magelang ini kurang
lebih membutuhkan waktu sekitar dua jam. Oleh karena itu, setelah selesai merekonstruksi
tenda, matras, sleeping bag, nisting, kompor, gas, konsumsi dan keperluan
pribadi lainnya dalam carier, bismillah kami berangkat pukul 13.00
menggunakan dua motor metic; boncengan dua-dua.
Perjalanan kami awal mula berjalan lancar-lancar saja. Dari Jogja, kemudian
gas terus melewati jalan Magelang cuacanya cerah, secerah wajah kamu, eeaa.
Namun, ketika sampai di Ketep, tiba-tiba langit berubah menjadi hitam pekat.
Beruntung sebelum turun hujan kami sempatkan berhenti di warung pinggir jalan
untuk membeli jas hujan anti badai, topan dan petir seharga tiga ribu rupiah.
Dengan demikian, kami terlindungi dari tetesan air hujan yang beraninya turun bareng-bareng.
Pukul 15.30, kami sampai di basecamp gunung Andong, molor tiga puluh menit dari
perkiraan awal saya karena terkendala hujan tadi.
Sesampainya di basecamp, saya sedikit dibuat kaget dengan ramainya
spektrum motor dan mobil. Hal ini dikarenakan, ketika saya ke Andong kali
pertama dan kedua, parkirannya nggak seramai ini. Kalau kemarin, parah naudzubillah,
bukan hanya tempat parkir saja, tetapi samping jalan pun dibuat konstruksi motor
dan mobil menampung kendaraan para pendaki.
“masih muat nggak ya mendirikan tenda di atas”. Ucap Ichsan
sedikit pesimis.
“entah lah”, jawab saya dengan ragu-ragu.
Kami memutuskan untuk istirahat sejenak, sembari ngopi dan makan nasi
untuk mempersiapkan tenaga. Karena terlalu beresiko manakala mendaki gunung
dengan perut kosong, terlebih ketika memiliki riwayat penyakit lambung, seperti
Ichsan. Sungguh mendaki gunung bukan sepele yang penting sampai puncak, akan
tetapi keselamatan menjadi hal fundamental dalam melangkah dari basecamp hingga
ujung jalan terakhir. Oleh karena itu, harus dipersiapkan semaksimal mungkin
sehingga pendakian berjalan dengan lancar dan aman.
Selepas menyantap rames dan meneguk segelas kopi hitam, kami sepakat agar
Ichsan berangkat terlebih dahulu untuk mencari tempat kosong guna mendirikan
tenda. Sedangkan saya, Rijal dan Ikhwan berangkat jam 16.15 sore.
Waktu yang diperlukan untuk mendaki gunung Andong dari basecamp hingga
puncak kurang lebih satu jam setengah. Waktu yang bisa dibilang sangat singkat
untuk mendaki sebuah gunung. Hal ini tentu berbeda jauh dengan gunung Merapi
misalnya, yang membutuhkan waktu empat setengah jam, begitu juga gunung Merbabu,
lebih-lebih gunung Sindoro yang membutuhkan tujuh jam pendakian. Oleh karena
itu, gunung yang memiliki nama lain “punuk onta” ini recommended banget bagi
pemula. Ditambah pemandangan yang aduhai epic Masyaa Allah, menjadikan eksistensi
gunung ini banyak peminatnya.
Perjalanan kami lewati dengan santai sambil menikmati indahnya alam
pegunungan. Setapak demi setapak jalan kami lalui. Tak terasa sudah sampai di
pos satu. Setelah minum beberapa tegukan, kami melanjutkan perjalanan kembali
menyusuri jalan tanah yang nggak berdebu karena habis terguyur hujan. Kami berjalan
dengan santuy, mengingat Rijal yang baru dua kali ini naik gunung, ditambah
badannya yang gemuk, nggak memiliki resistansi berjalan yang konstan. Sempat juga
dia berbaring mengatur nafas karena kepalanya pusing dengan pucat wajahnya.
Kalau ngomongin kawan saya yang dari Martapura ini, ada cerita lucu
ketika mendaki kali pertama. Jadi, ketika libur semester dua, saya dan
teman-teman PUTM memutuskan untuk mendaki gunung Merapi. Rijal yang belum
pernah naik gunung sekalipun awalnya nggak ada keinginan untuk ikut, akan
tetapi paksaan dengan sedikit ancaman mengubah fatwanya menjadikannya ikut.
“pake sandal ini nggak papa? (sandal slop kodok). Tanya Rijal kepada
saya sebelum berangkat.
“nggak papa” jawab saya dengan pragmatis.
Omongan saya ini dijadikan kredo oleh Rijal, mungkin karena saya sering
mendaki, jadi dia percaya saja. Walhasil Rijal sering terdekadensi sandalnya
dan kakinya lecet-lecet semua ketika mendaki. Karena idealnya, mendaki harus
memakai sandal atau sepatu tracking, mengingat medan yang terjal dengan
bebatuan kerikil. Dari kisah ini, dia sering cerita ke orang-orang yang dia
temui. Pokoknya nyalahin saya. “ini nih orang nya, aseeem” ucapnya.
Lanjut ke pendakian Andong, tibalah kami di pos dua. Ternyata Ichsan yang
berangkatnya mendahului kami lima belas menit sedang duduk termenung di pos
ini. Ternyata kaki kanannya terkilir. Beruntungnya masih bisa melanjutkan
perjalanan. Karena tidak bisa berjalan cepat seperti semula, maka saya dan
Ikhwan memutuskan menjadi separatis, untuk menggantikan Ichsan berangkat duluan
guna mencari tempat tenda.
Saya sampai puncak bebarengan dengan adzan maghrib berkumandang. Benar
dugaan saya, tenda-tenda dengan berbagai merek dan warna sudah berjejer rapi
menjadi atap gunung ini. Kemudian saya menyusuri camp area untuk mencari mana
sekiranya space tanah yang masih muat untuk didirikan tenda di atasnya. Ternyata
masih ada tempat kosong di antara himpitan dua tenda, dan viewnya pun juga
terbilang cantik dengan menghadap ke gunung merbabu. Tanpa beristirahat lama,
mulailah saya membuka carier, merogoh tenda beserta framenya. Kami bentangkan
tenda tersebut, mencari sudut yang pas. Tak lupa setiap sudutnya kami tancapkan
pasak besi untuk memperkuat kekokohannya. Jadilah tenda kami berdiri gagah
dengan warna kuning covernya.
Setelah selesai mendirikan tenda, saya memutuskan untuk turun lagi guna
menyusul Rijal dan Ichsan yang masih tertinggal di belakang. Gokilnya, dari pos
empat sampai turun ke pos satu, saya tidak menemukan dua sosok manusia ini,
jasatnya pun tidak tercium aroma
busuknya. Hehe. Karena adzan isya berkumandang, saya putuskan untuk naik
kembali ke puncak, dengan harapan mereka sudah sampai di tenda. Jadi bisa
dibilang pada pendakian ini, saya mendaki gunung Andong dua kali. Warbiyasah.Benar
saja setelah sampai pos empat, saya ketemu dengan Rijal yang malah sekarang dia
yang mencari saya.
“nah ini dia, kamu dari mana?” tanya Rijal.
“dari nyari kamu cuy”, jawab saya dengan ngos-ngosan
“nyari di mana?, tanya Rijal lagi.
“turun sampai pos satu”.
“hahhh, masa?”, jawab Rijal dengan kaget.
“iya yo”.
Singkat cerita, ternyata mereka setelah maghrib sudah sampai di puncak.
Akan tetapi karena mereka mencari tenda kami, mengharuskan mereka berputar
menyusuri camp area untuk menemukan tenda berwarna kuning, sehingga tidak
berpapasan dengan saya yang turun ke bawah.
Sesampainya di tenda, saya istirahat sejenak, kemudian mengatur posisi
untuk sholat jamak takhir Maghrib dan Isya. Saya tepukkan tangan ke
matras untuk melakukan tayamum, dan tiga rakaat kemudian disambung dengan dua
rakaat.
Selesai melaksanakan sholat, kami santap makan malam sambil bercerita
tentang indahnya semesta, melupakan sejenak beban tugas kuliah yang semakin
menumpuk dan tak kunjung usai. Inilah salah satu momen romantis tatkala
mendaki. Karena tidak ada sinyal internet, mengharuskan kita untuk mengobrol
tanpa ada gangguan suara notifikasi wa masuk. Keadaan seperti ini langka
ditemukan di kota. Karena perkembangan teknologi yang jauh terasa dekat, akan tetapi
yang dekat, malah terasa menjadi jauh. Satu meja akan tetapi tidak tegur sapa.
Setelah selesai makan, tak beraktifitas lainnya, pukul 21.30 saya
putuskan untuk memejamkan mata, sembari menunggu mentari esok pagi yang akan
muncul dari ufuk timur. Namun, tidur saya tidak bisa pulas. Berisiknya pendaki
yang di belakang tenda kami membuat saya terbangun di tengah malam. Ingin rasanya
menegur, akan tetapi ada rasa pekewuh dalam hati. Secara sosiologis, seharusnya
para pendaki itu tahu, bahwa di gunung itu bukan mereka sendiri yang hidup, ada
pendaki lain yang ingin istirahat. Oleh karena itu, seharusnya tidak mengganggu
pendaki lain dengan tertawa terbahak-bahak tengah malam, atau ngobrol dengan suara
yang sangat keras, sehingga pendaki lain bisa beristirahat dengan nyaman dan
tenang.
Pukul empat pagi berbarengan dengan adzan subuh saya terbangun. Dua rakaat
saya tunaikan. Kemudian menyeduh secangkir susu putih dengan lalapan roti
coklat, sambil menunggu mentari bersinar. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang
juga. Sunrise dari ufuk timur menggaduhkan seluruh pendaki dengan mengambil
setiap momen langka tersebut untuk diabadikan. Mulai dari gaya selfie, kendit,
bareng-bareng, semua terekam dalam kamera sebagai bahan status whatsapp ataupun
instagram. Tak tertinggalan foto di tugu bertuliskan “gunung Andong” menjadi
background wajib bagi para pendaki untuk berfoto ria.
Setelah selesai berfoto, jam tujuh pagi kami masak dua mie Sukses kuah isi
dua dengan tambahan sayur kol, satu butir telur dan sedikit susu untuk sarapan
pagi. Tak lupa kopi hitam sebagai partnernya. Ditambah dengan lagu Fiersa
Besari, menjadikan paripurna identitas kami sebagai nax indie.
Seusai sarapan, pukul setengah delapan kami packing seluruh barang dan
persiapan turun gunung. Pas pukul delapan kami memulai langkah untuk meninggalkan
puncak gunung yang indah ini. Itulah perjalanan saya ketiga kalinya kegunung
Andong, dan tentunya pendakian ini bukan pendakian terakhir saya ke gunung ini.
Maka saya ucapkan: “sampai jumpa Andong, di waktu yang akan datang”. Sekian.
![]() |
| Dari kiri; saya, Ichsan, Rijal, Ikhwan |


Komentar
Posting Komentar