Tantangan Terbesar Eks Santri



Menjadi seorang santri merupakan anugrah yang tak ternilai. Bagaimana tidak, di pesantren kita dipertemukan dengan orang-orang shalih dengan berbagai macam ideologi, mazhab, paradigma, watak, karakter dan gaya hidup unik. Dulu saya punya teman yang fundamentalis-radikalis-puritanis, pokoknya syariat Islam harus tegak. Khilafah harga mati. Setiap hari downloadin video ISIS dari situs Azamedia. Ehh akhirnya saya juga ikut-ikutan menjadi fans ISIS, namun dalam perspektif kehebatan mereka dalam latihan, semangat jihad, tidak dalam ranah aqidah.

Ada juga yang tradisionalis, persetan dengan modernitas dan kemapanan. Kalau pernah baca buku The Subtle Art Of Not Giving A Fuck karya Mark Manson, maka pasti tahu lah dengan term #bodoamat. Teman saya bisa dibilang pengejawentahan dari buku itu, #bodoamat dengan tugas, #bodoamat dengan ujian #bodoamat dengan pelajaran dan #bodoamatbodoamat dengan hal-hal yang lainnya. Ada juga yang biasa-biasa saja, golput, atau di tengah-tengah antara keduanya, wasatiyyah. Kalau boleh meminjam istilah Mu’tazilah, manzilah baina manzilatain. Tapi semua itu sebatas obrolan santai di bawah atap pesantren.

Dogma Pesantren

Pesantren menjadi lembaga yang mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dalam epistemologis Agama Islam. Saya haqqul yakin, tidak ada pesantren yang mengajarkan keburukan, megajarkan permusuhan, apalagi sampai mencari lawan atas dasar kebencian. Akaupun ada, hanya oknum lah. Makanya setiap pesantren memiliki dogma-dogma yang tentunya mengarahkan agar menjadi pribadi yang shalih dan mushlih. Mulai dari berpakaian, belajar, berinteraksi dengan lawan jenis, dan lain sebagainya. Sehingga idealnya lulusan pesantren menjadi minyak yang mengharumkan sekitarnya.

Sebagai contoh, di pesantren saya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus, sholat lima waktu wajib dilaksanakan secara kolektif di masjid. Mulai dari subuh, dzuhur, asar, maghrib dan isya’. Kalau seandainya ada santri yang melenggarnya, maka siap-siap saja kena iqab dari kyai. Pernah suatu ketika tatkala waktu sholat dzuhur, adzan dikumandangkan. Saya masih asyik ngorol di kamar Usamah bin Zaid. Di kamar waktu kelas empat pondok ini, saya dan teman-teman tidak menghiraukan kalau waktu iqamah sudah dekat.

Tiba-tiba gagang pintu kamar yang terbuat dari besi berbunyi, “nggiiikkk”. Betapa kaget setengah mati ketika melihat di depan pintu ada Ustadz yang terkenal killer, Ustadz Muttaqin dengan memegang sajadah digulung, yang mana pasti rasanya mak nyuuss ketika digunakan untuk memukul. Dugaan saya benar, kami disuruh keluar kamar satu per satu untuk bersegera pergi ke masjid. Tidak lupa gebukan sajadah menjadi syarat sah untuk keluar dari kamar tersebut. Artinya, belum sampai meninggalkan sholat jamaah saja sudah di gituin, apalagi meninggalkannya.

Apa yang saya ceritakan di atas merupakan salah atu contoh saja, bahwa pondok pesantren memiliki doktrin, ajaran, aturan, dan dogma yang berpegang dalam ajaran-ajaran agama, guna menciptakan pribadi santri yang bertaqwa.

Terbius Budaya Non Pesantren

Bisa dikatakan bahwa pertaruhan ideologi santri adalah ketika masuk dalam universitas. Ketika di perguruan tinggi, tentunya tidak semua teman dari pesantren, mungkin hanya 1 % saja, kecuali jika dalam prodi Agama mungkin lebih besar dari itu. Di situlah nanti alumni pesantren akan diuji.  Eks santri akan berdialektik dengan individu dengan berbagai karakter, ideologi dan perspektif dalam beragama yang berbeda-beda dan sulit untuk menemukan titik temunya.

Ada yang ilmu agamanya tinggi, kurang, liberal, sekuler, pluralis, dan lain sebagainya. Tah heran ketika bersinggungan, kaget dengan realitas yang dihadapi. Bukan malah mewarnai, akan tetapi malahan terwarnai. Bahkan dalam tingkatan yang fatal, akan terjadi desrupsi integritas santri. Kalau istilah saya, terjadi de-pesantrenisasi, meskipun tidak terorganisir secara sistematis. Terjadilah penghilangan semangat integritas kesantrian.

Dulu yang awalnya di pesantren sholat nggak pernah ketinggalan, dilaksanakan secara berjamaah, selalu shof depan, ketika sudah dalam perguruan tinggi, jangankan sholat shof depan, masih bisa jamaahan saja sudah alhamdulillah. Selain itu yang mana dulunya ketika di pesantren jilbabnya besar, pakaiannya lebar, akan tetapi setelah masuk kuliah jilbab lebar hanyalah romantisme masa lalu, jilbab kecil menjadi candu. Soal pakaian, lekuan tubuh pun menjadi fashion dengan pakaian trendi dan bermutu.

Eks Santri! Berjuanglah

Maka dogma-dogma yang diajarkan dulu di pesantren menjadi fundamen dalam menjalani dinamika kehidupan sosial. Worldview tauhidi menjadi kunci untuk menepak jejak globalisasi. Menurut saya wajib bagi lulusan pesantren mampu untuk membendung, melawan derasnya arus de-pesantrenisasi. Santri ortodoks dituntut mampu berintegrasikan dengan realitas yang ada, sehingga dapat menjadikannya sarana dakwah yang dapat menyebarluaskan dogma pesantren, khususnya tauhidi. Dengan demikian tujuan menjadi minyak akan mampu terlaksana sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada.

Terakhir saya masih ingat wejangan dari guru sosiologi, Ustadz Frans Anggar, beliau mengatakan bahwa ketika sudah keluar dari pesantren, jangan lupa jaga baik-baik nama pesantren, jangan lupakan apa yang sudah diajarkan dipesantren, tetap amalkan dan laksanakan sebaik-baiknya.

Komentar