Salafi-Radikal-Konservatif Adalah Jalan Ninjaku



Sudah kurang lebih tiga pekan ini, pembahasan mengenai Salafi-Muhammadiyah ramai diperbincangkan di Kanal Islam Berkemajuan, situsnya anak-anak intelektual Muhammadiyah itu loh. Berbagai analisis diskursus yang membahas perihal ideologi bernama salafi ini saling berdialektika dan bersalam sapa. Hal ini tentu memantik gairah kritis dan responsif bagi para pemikir-pemikir di Kanal tersebut. Asyik sih. Namun apalah saya yang hanya bisa membaca dan manggut-manggut saja, tanpa bisa menyalurkan argumen seperti yang lainnya.

Memang pembahasan mengenai Salafi-Muhammadiyah ini menarik untuk diobrolkan. Mulai dari pertanyaan mengapa dogma Salafi bisa masuk ke warga Muhammadiyah, apa penyebab fatwa Muhammadiyah kalah sama Salafi dalam penyebarannya, hatta apakah seseorang yang bercelana cingkrang dan berjenggot tebal pasti salafi yang berbahaya bagi persyarikatan, sebagaimana tulisan terbaru dari Afif Amriza Makkawy yang diunggah di IB Times pada hari ini (11/10), sangat menarik untuk dicermati. Dan sekali lagi saya hanya manggut-manggut saja dalam menikmati dialektika keilmuan ini.

Kalau boleh mengingat romantisme masa-masa lima tahun yang lalu, saya juga pernah menjadi pemuja radikal-konservatif dari paham Salafi. Kisah itu bermula tatkala saya kenal dengan Ustadz-ustadz Youtub yang berideologi Salafi, sebut saja Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Yahya Badrussalam, dan tak ketinggalan, Ustadz Yazid Jawwas pun saya dengarkan ceramahnya.

Dari situlah paradigma pemikiran saya menjadi salafi-radikal-konservatif. Celana saya pangkas di atas mata kaki (tidak isbal), beli obat buat tumbuhin jenggot, dan merasa diri paling benar, sedangkan yang lain salah, ahlul bid’ah, kafeer, finnarr, ambyarr.

Kaidah fiqhiyyah yang saya hafal hanya satu “al-aṣl fī al-amr li al-wujūb”. Maka ketika mendengar hadits yang mengatakan “potonglah kumis dan peliharalah jenggot”, saya sami’nā wa aṭa’nā untuk melaksanakannya, atau ada hadits yang mengatakan “kain yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka”, hati saya bergelora untuk menunaikannya. Ketika sudah melaksanakan dua perintah ini, entah mengapa merasa sudah paling nyunnah, sedangkan ketika melihat yang jenggotnya dipotong serta isbal, sinis aja bawaannya.

Bahkan dulu pernah melihat foto-foto para ketua PP Muhammadiyah dari KH Ahmad Dahlan sampai KH Haidar Nashir yang tidah memelihara jenggot, rasa sinis pun muncul juga. “heleh Muhammadiyah jare kembali neng al-Qur’an karo Sunnah, lha sunnah ndawakke jenggot wae ora dilakoni”, batin saya.

Transformasi Paradigma

Akan tetapi semua paradigma saya bertransformasi ketika memasuki masa kuliah. Ketika saya kulih di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), banyak ilmu yang saya dapatkan. Ditambah banyak berinteraksi dengan bapak-bapak PP Tarjih Muhammadiyah dalam berbagai mata pelajaran, khususnya Manhaj Tarjih, pikiran saya baru ngeh, “kasyaf”. Saya mengalami “aha moment”. “oh ngene to jebule”.

Ternyata berbicara masalah agama, terkhusus masalah fiqih, tidak seinstan mie instan. Fiqih itu luas, bukan hanya membicarakan ini benar itu salah, ini sunnah itu bid’ah. Banyak khazanah-khazanak keilmuan yang harus dipelajar, mulai dari ushul fiqih, tafsir al-Qur’an, asbāb an-nuzūl, cara istimbath hukum, nasikh mansukh, bagaimana cara menyelesaikan dalil-dalil yang bertentangan (ta’āruḍ al-adillah), cara mengintegrasikan berbagai dalil, rijalul hadits, ma’anil hadits, asbāb al-wurūd, dan masih buanyak lagi.

Nasihat Untukmu

Dari cerita saya di atas, saya beranggapan bahwa problem yang dialami oleh orang-orang yang baru mengenal agama, atau bahasa kerennya “pemuda hijrah” adalah instan dalam memperoleh ilmu agama, kalau istilah saya instanisasi epistemologis. Dengan kata lain, orang-orang hijrah sekarang memperoleh ilmu agama secara instan melewati media sosial, baik dari Youtube, Facebook, Twitter, WA dan lainnya. Sehingga efeknya ketika yang dilihat ustadz yang beraliran salafi-radikal-konservatif, maka akan membentuk persepsi pemikiran yang kolot dan keras.

Oleh karena itu, sebagai mantan salafi-radikal-konservatif saya berpesan buat pada saudaraku yang baru hijrah untuk memperbanyak wawasan. Jangan hanya mendengarkan ceramah dari ustadz yang satu mazhab, tetapi silahkan dengarkan yang bersebrangan mazhab. Dengan demikian maka pemikiran kita akan terbuka dan legowo dalam menerima perbedaan pendapat, serta tidak konservatif.

Terakhir, pesan untuk saya pribadi, JANGAN LUPA BAHAGIA. Udah gitu aja.

Komentar