Dari Pelantikan Jokowi Hingga Kesuksesan Umar bin Abdul Aziz



Pada tanggal 20 Oktober kemarin, Ir. Ḥ Joko Widodo dan Prof. K.H. Ma’ruf Amin resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia masa periode 2019-2024. Saya sebagai warga negara mengucapkan selamat kepada kedua orang hebat tersebut, yang telah memenangkan percaturan kontestasi pilpres kemarin. Mudah-mudahan amanah, jujur, tanggung jawab, adil, dan mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemaslahatan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang maju.

Berbicara tentang seorang pemimpin, saya jadi teringat dengan seorang khalifah Islam yang sangat luar biasa, mampu mengembalikan ruh Islam setelah sekian lama hilang, menjadi negarawan sekaligus da’i bagi umatnya, yang hidup terbatas tanpa menghambakan harta. Dialah Umar bin Abdul Aziz (63-101 H).

Selayang Pandang Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 63 H di Madinah bertepatan dengan diserangnya kota Makkah al-Mukarramah oleh tentara Yazid bin Muawiyah lantaran ada Abdullah bin Zubair yang memproklamirkan dirinya sebagai seorang Khalifah. Mungkin itu adalah isyarat dari Allah lahirnya calon pemimpin yang akan memutus kezaliman bani Umayyah, yang merubah haluan kekhalifahan dari yang sewenang-wenang menjadi santun dan menyejukkan. Ayahnya adalah Abdul Aziz, putra Khalifah Marwan bin al-Hakam yang merupakan sepupu Khalifah Utsman bin Affan. Sedangkan Ibunya adalah Laila, cucu Khalifah Umar bin Khattab.

Semasa kecil Umar bin Abdul Aziz dididik oleh para tokoh yang kredibel. Sebut saja Abdullah bin Umar, seorang sahabat yang sangat familiar dengan perawi hadits. Ia diasuh dan diajari ilmu-ilmu hadits langsung darinya. Maka tak heran ketika kelak memimpin sebagai khalifah, semua tindakan dan ucapannya sesuai dengan apa yang dicontohkan Kanjeng Nabi, Rasulullah Muhammad saw.

Ditetapkannya sebagai khalifah tidaklah seperti khalifah-khalifah sebelumnya, yaitu menggunakan sistem mamlakah, monarki. Akan tetapi resmi bersumber dari suara rakyat. Diceritakan tatkala khalifah Sulaiman bin Abdil Malik akan meninggal dunia, ia menulus sebuah wasiat kepada staf kekhalifahannya: Raja’. Wasiat tesebuat ia larang untuk dibaca kecuali setelah meninggal dunia. Tatkala khalifah wafat, berkumpulah rakyat. Mulailah Raja’ membaca wasiatnya. Ternyata yang terpilih menjadi seorang khalifah adalah Umar bin Abdil Aziz. Mendengar isi dari wasiat tersebut, ia mengucap “inna lillāhi wa inna ilaihi rājiun”. Merasa tidak terima dengan pilihan khalifah, majulah Umar bin Abdul Aziz seraya meminta kepada rakyat untuk memilih khalifah sesuai hati nurani mereka. Tetapi semuanya telah sepakat bahwa yang akan menjadi khalifah adalah dirinya.

Hal tersebut membuat Umar frustasi, galau, dalam arti ia akan menanggung beban yang berat, memberi makan orang yang kelaparan, menolong orang yang terdzolimi dan lain sebagainya. Maka langkah awal yang ia lakukan adalah menghapus kebiasaan bermewah-mewahan. Ia menjual tanah miliknya dan dimasukkan ke baitul mal. Bahkan yang dulunya ia hobi mengenakan pakaian mahal dan halus, ia ganti dengan pakaina sederhana.

Gebrakan demi gebrakan Umar lakukan. Mulai dari penetapan syariat, mengganti gubernur yang dzalim, berkomunikasi dengan alim ulama, memutus kebencian terhadap Ali bin Abi Thalib, memberantas bid’ah, menghadapi khawarij dan mengkodifikasi hadits. Semuanya sukses ia lakukan dan menjadikannya pemimpin yang dicintai rakyat. Tidak hanya rakyat perkotaan, tetapi plosok sekalipun dapat merasakannya. Diceritakan bahwa seorang pengembala kambing pernah berkata “siapakah gerangan pemimpin adil yang menjadi khalifah?” dijawablah “Umar bin Abdil Aziz, mengapa engkau tahu?”. “karena serigala yang biasanya menerkam kambing dapat hidup akur dan berdambingan disebabkan pemimpin yang adil” katanya.

keberhasilan lain yang mampu dicapai oleh Umar bin Abdul Aziz adalah memajukan Baitul mal. Nor dalam jurnalnya (2015) yang berjudul Success Factors Baitulmal Management during The Reign of Caliph Umar ibn Abdul Aziz, mengungkapkan bahwa  ada enam faktor penentu keberhasilan untuk manajemen keuangan selama masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang telah diidentifikasi. Faktor-faktor tersebut adalah lingkungan yang sehat untuk pertumbuhan ekonomi, penguatan baitulmal, merangsang dan mendorong sektor bisnis, menciptakan aturan baru untuk sektor pertanian, memberikan lebih banyak fokus pada dana umum yang disimpan dalam perbendaharaan dan faktor terakhir adalah kewaspadaan dengan penggunaan perbendaharaan nasional.

Umar bin Abdul Aziz hanya mempin selama dua setengah tahun. Akan tetapi sangat dirasakan perubahan yang sangat luar biasa. Bahkan Sufyan Tsauri dengan ijtihadnya mengatakan “khalifah itu ada lima, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdil Aziz, sedangkan yang lain hanyalah pelawak”.

Akan tetapi setiap pemimpin yang baik pasti memiliki musuh, dan datang dari orang terdekatnya. Akhirnya khalifah terserang penyakit akibat makan racun yang dibawa khadam. Singkat cerita, seorang pemimpin yang adil, pada 20 Rajab tahun 101 H, dibunuh oleh keluarganya sendiri, lantaran benci karena ia menghilangkan kemewahan dan foya-foya yang biasa dilakukan dulu.

Ibrah Kepemimpinan Umar bin Abdil Aziz

Dari kisah Umar bin Abdil Aziz dapat kita ambil pelajaran dan contoh dalam kehidupan. Dalam perspektif negarawan, menjadi seorang pemimpin harus berusaha semaksimal mungkin dalam menciptakan kemajuan. Jadilah pemimpin yang bertakwa, dekat dengan ulama, berbuat adil, mendirikan syariat dan lain sebagainya seperti yang telah dicontohkan oleh khalifah Umar bin Abdil Aziz. Dengan pondasi agama yang kuat maka akan terciptalah negeri yang aman, damai dan maju, sehingga agama akan tegak tanpa mendzolimi agama lain, tetapi mengayomi dan menjaganya. Tidak ada salahnya manakala trobosan-trobosan Umar bin Abdul Aziz diterapkan dalam negeri kita tercinta ini.

Oleh karena itu, saya berharap agar kolaborasi antara duo insan yang memiliki latar belakang yang berbeda tersebut, Pak Jokowi dengan keilmuan kenegarawannya, dengan kyai Ma’ruf Amin yang berlatarbelakang agamawan, mampu berintegrasi dengan apik dalam menginovasi trobosan-trobosan islami, sehingga narasi baldatun ṭayyibatun wa rabbun gafūr tersematkan dalam nama Indonesia.

Sumber:
  • Firdaus A.N. (1985). Kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdil Aziz. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya
  • Nor, R. M. (2015). Success Factors for Baitulmal Management during the Reign of Caliph Umar ibn Abdul Aziz. Open Journal of Social Sciences3(05), 90.


Komentar