Al-Kauṡar: Sungai Umat Kanjeng Nabi



Setiap senin setelah subuh, agenda rutin yang saya laksanakan adalah mengajar Tafhīm al-Qur’ān. Ini merupakan suatu liqa kecil-kecilan yang materinya tentang tafhīm (pemahaman) al-Qur’ān juz 30. Kegiatan yang di laksanakan di asrama mahasiswa Unires UMY ini menggunakan pedoman buku yang dikarang oleh Ustadz Talqis Nurdianto dengan judul Tafhimul Quran Juz 30. Tujuan dari program ini adalah agar para residen (mahasiswa yang tinggal di asrama) mempu memahami al-Qu’ran secara mendalam dan komprehensif, sehingga tidak terjebak dalam pemahaman tekstual lagi setengah-setengah dalam mentafakkuri ayat-ayat dari Kitab yang Agung ini.

Pada pagi ini (21/10), pembahasan sampai pada surat al-Kauṡar. Surat ini dalam spektrum mushaf Utsmani menempati urutan ke-108. Susunannya terdiri dari tiga ayat, dan surat ini diturunkan di Makkah, begitulah menurut pendapat yang masyhur.

Makna al-Kauṡar

Yang menjadi sesuatu hal menarik menurut saya adalah terkait dengan makna kata al-kauṡar. Dalam ayat pertama, Allah berfirman bahwa sesungguhnya kami telah memberimu (Muhammad) al-kauṡar. Kalau dalam makna literalnya, ia diartikan dengan nikmat yang banyak. Nahh, karena penasaran dengan arti dari kata tersebut, tanpa berpikir lama saya buka kitab tafsir yang dikarang oleh sarjana muslim abad 14 M yang bernama: Ismāil Ibn ‘Umar al-Quraisyi bin Kaṡīr al-Bari ad-Dimasyqi, ‘Imaduddin Abu al-Fida al-Ḥāfi al-Muaddi asy-Syāfi'i, atau yang dikenal dengan nama Ibn Kaṡīr (1301-1372 M).

Adalah kitab Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, yang saya gunakan dalam mencari makna dari kata al-kauṡar. Ini merupakan suatu kitab yang masih banyak digunakan di zaman sekarang. Kitab tafsir yang dikarang oleh ulama asal Suriah ini tergolong bercorak tafsir bi al-ma’ṡūr, yaitu suatu model penafsiran dengan bertumpu pada dalil-dalil naqli, misalnya menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, dengan as-Sunnah, atau dengan perkataan sahabat serta tābi’īn. Oleh karena itu, dalam menginterpretasikan makna al-kauṡar ini, Ibn Katṡīr memaparkan riwayat-riwayat yang ia dapat, salah satunya beliau menukil riwayat dari Imam Ahmad sebagai berikut:

قال الإمام أحمد: حدثنا محمد بن فضيل، عن المختار بن فُلْفُل، عن أنس بن مالك قال: أغفى رسول الله صلى الله عليه وسلم إغفاءة، فرفع رأسه مبتسما، إما قال لهم وإما قالوا له: لم ضحكت؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إنه أنزلت عليَّ آنفا سورة". فقرأ: بسم الله الرحمن الرحيم { إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ } حتى ختمها، قال: "هل تدرون ما الكوثر؟ "، قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: "هو نهر أعطانيه ربي، عز وجل، في الجنة، عليه خير كثير، تردُ عليه أمتي يوم القيامة، آنيته عدد الكواكب، يُخْتَلَج العبد منهم فأقول: يا رب، إنه من أمتي. فيقال: إنك لا تدري ما أحدثوا بعدك

Dari riwayat tersebut diceritakan bahwa Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepadanya Muammad Ibn Fudail, dari al-Mukhtār Ibn Fulful, dari Anas Ibn Mālik yang mengatakan bahwa suatu ketika, Kanjeng Nabi saw menundukkan kepalanya sejenak. Lalu beliau ndangaake kepalanya seraya tersenyum. Setelah itu, Beliau bersabda kepada mereka (para sahabat), atau mereka bertanya kepada beliau saw "Nyuwun sewu Kanjeng nabi, mengapa Panjenengan tersenyum?" Maka Kanjeng Nabi saw menjawab, "Sesungguhnya barusan telah diturunkan kepadaku suatu surat." Lalu Beliau membaca firman-Nya: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu al-Kauar, hingga akhir surat.

Setelah membaca surat al-Kauṡar Kanjeng Nabi saw bertanya kepada para sahabat, "Tahukan kalian, apakah Al-Kautsar itu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Kemudian Beliau bersabda:Al-Kauar adalah sebuah sungai (telaga) yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga. Padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat. Jumlah wadah-wadah (bejana-bejana)nya sama dengan bilangan bintang-bintang. Diusir darinya seseorang hamba, maka Aku berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari umatku.” Maka dikatakan, "Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat-buatnya sesudahmu."

Dari riwayat di atas dapat kita ketahui bahwa al-kauar adalah sungai (nahr) yang disediakan oleh Allah, yang mana umat Kanjeng Nabi akan mendatanginya pada hari kiamat serta meminum airnya. Lalu bagaimana gambaran sungai tersebut? Apa isinya? Bagaimana warnanya dan rasanya?

Karakteristik al-Kauṡar

Dalam riwayat yang lain Ibn Katṡīr mengutip riwayat dari Ibn Jarīr sebagai berikut:

قال ابن جرير: حدثنا أحمد بن أبي سُرَيج حدثنا أبو أيوب العباسي، حدثنا إبراهيم بن سعد، حدثني محمد بن عبد الله، ابن أخي ابن شهاب، عن أبيه، عن أنس قال: سُئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الكوثر، فقال: "هو نهر أعطانيه الله في الجنة، ترابه مسك، [ماؤه] أبيض من اللبن، وأحلى من العسل، ترده طير أعناقها مثل أعناق الجُزُر". فقال أبو بكر: يا رسول الله، إنها لناعمة؟ قال: "أكلها أنعم منها

Ibn Jarīr menjelaskan, adapun karakteristiknya, kata Rasulullah, tanahnya itu sewangi minyak kasturi (misk), airnya lebih putih (abyaḍ) dari susu (al-laban), dan rasanya lebih manis (aḥla) dari madu (al-‘asl). Kalau misalkan dikontekskan pada masa sekarang, wanginya itu kira kira lebih wangi dari Clive Christian No 1 Imperial Majesty yang harganya USD 435.000 atau setara dengan Rp 5 miliar. Warnanya lebih putih dari warna cat berbahan titanium dan zinkum putih produk dari Dulux yang slogannya “Ciptakan yang terputih dari warna putih”. Sedangkan rasanya, lebih manis dari madu Beech Honeydew, yang diproduksi oleh kumbang dari Selandia Baru yang hanya hidup di pohon beech merah dan hitam seraya memproduksi zat kaya akan gula yang disebut honeydew.

Mantap kan? Pengen mendatangainya? Juga pengen nyicipin dan merasakannya? Oleh karena itu, yuk mari sama-sama berdoa kepada Allah semoga kita termasuk dari Umat Rasulullah yang bisa mendatangi sungai al-kauṡar seraya mencicipi lezatnya, nikmatnya, segarnya air yang terdapat di dalamnya. Aamiiin.

Komentar