Agus Mas Roni, Nabi dan Sarjana Muslim Galau?



Akhir-akhir ini, status whatsapp sahabat saya, Agus Mas Roni (Selanjutnya: Roni), sering kali mengandung diksi dan narsi yang bergenre galau. Meskipun ketika saya bertanya kepadanya: “aman Ron?”, pria yang sekarang menjadi komandan Kokam Kudus ini selalu mengelak, “aman tadz, ben ketok galo wae?”.

Dari jawabannya tersebut ada dua kemungkinan, (1) memang benar dia tidak galau, atau kemungkinan yang kedua, (2) dia sedang galau tetapi berusaha menutupinya. Kalau saya cenderung memilih yang kedua, karena teori “status media sosial” mengatakan bahwa tulisan itu representasi dari sesuatu yang sedang dipikirkan. Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya ingin menganalisis sebab sahabat saya mengalami hypophrenia ini. Cekidot.

Makna Galau

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai “galau”, alangkah lebih afdhal jika kita mengetahui terlebih dahulu arti kata ini. Mengetahui definisi kata itu wajib mugallaẓah ketika akan membahas suatu persoalan, agar pembahasannya jelas yang dimaksud, terarah dan tidak ngalor ngidul. Makanya, dalam kajian Ilmu Mantiq, tema at-ta’rīf, menjadi salah satu pembahasan fundamental yang wajib dipelajari sebelum melangkah ke pembahasan yang lainnya.

Galau memiliki makna yang komprehensif. Kata galau melahirkan suatu neologisme yang barmacam-macam. Kata ini bukan hanya diterapkan dalam masalah “perbucinan”, akan tetapi juga pada yang lainnya. Murid yang galau karena tidak mengerjakan PR, guru yang galau karena muridnya nakal, istri yang galau karena uang belanja habis, kampret yang galau karena Prabowo masuk mentri Jokowi, NU yang galau karena tidak dapat jatah mentri agama, hatta saya yang galau karena gajian belum cair-cair pun menjadi keadaan yang pas kata galau disematkan di dalamnya.

Jika dilihat dari KBBI, galau bermakna sibuk beramai-ramai, ramai sekali, kacau tidak karuan (pikiran). Dari definisi yang telah disebutkan di atas sehubungan dengan galauisme, agaknya yang pas dapat diambil untuk definisi galau untuk sahabat saya ialah pikiran yang kacau tidak karuan, seperti murung, gelisah, khawatir, bingung, sedih, cemas dan lain sebagainya yang merupakan manifestasi dari kondisi psikologis.

Analisis Kegalauan Agus Mas Roni

Oke, kembali lagi ke permasalahan galau yang dihadapi oleh Roni, jika saya lihat ada beberapa kemungkinan yang bisa menjadi penyebab dia galau. Kemungkinan pertama menurut saya adalah terkait dengan masalah “perbucinan”. Sebagaimana hasil investigasi yang dilakukan Gove (2015) dalam jurnal berjudul The Effect of Marriage on the well-being of Adults: A Theoretical Analysis, bahwa orang yang menikah memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi, karena pernikahan koheren dengan tingkat kebahagiaan.

Roni sekarang memiliki pekerjaan yang mapan di RS Aisiyah Kudus. Di samping itu dia juga menjadi seorang guru Madrasah Diniyah. Tentunya jika dilihat dari perspektif perbandingan pemasukan dengan pengeluaran, bisa dikatakan turah-turah untuk biaya hidupnya. Oleh karenanya, hanya satu hal yang belum dia dekap: pasangan. Seorang wanita yang dia dambakan dan impikan belum datang jua. Berbagai macam teori, approach, metode dan aforisme dia gunakan untuk menaklukkan hati sang pujaan, namun diktum “iya” dari sang pujaan hanya sebatas angan-angan. Kesendirian masih menghantuinya, hingga akhirnya dia mengalami kegalauan.

Akan tetapi, analisis saya pada kemungkinan pertama ini bisa jadi salah. Karena berdasarkan penelitian dari Fatimah (2018) dengan judul Kebahagiaan Ditinjau dari Status Pernikahan dan Kebermaknaan Hidup, mengungkapkan bahwa pernikahan hanya memiliki pengaruh 0,2% saja terhadap kebahagiaan. Sedangkan kebermaknaan hidup memiliki pengaruh 58% terhadap kebahagiaan. Oleh karena itu, menurut saya kemungkinan lain yang bisa menjadi penyebab Roni galau adalah perihal kebermaknaan hidup.

Sebagai seorang yang bekerja di rumah sakit dan guru Madrasah, tidak diragukan lagi bahwa Roni memiliki jiwa sosial yang tinggi. Di rumah sakit, dia menolong orang-orang yang terkena musibah dengan intens dan dinamis. Begitu juga dalam rungkup Madrasah, mengajarkan ilmu-ilmu Agama kepada murid-muridnya adalah kesehariannya. Yang awalnya tidak bisa membaca kitab suci al-Qur’an, berkat ketelatenan Roni, semuanya menjadi mahir dan lancar dalam membacanya.

Namun, itu semua belum cukup menjadikan hidupnya “bermakna”. Levelnya masih rendah. Mungkin, Roni ingin menaikkan lagi strata kebermaknaan hidupnya. Yang awalnya hanya membantu permasalahan teknis di rumah sakit, dia ingin membantu masalah finansial, dengan membiayai seluruh pasien yang sedang sakit, atau bahkan membangun rumah sakit. Begitu juga dalam profesinya sebagai guru Madrasah. Ia tidak ingin hanya bisa mengajari murid-muridnya mengenal tajwid dan makharijul huruf, tetapi juga ingin membiayai mereka untuk sekolah yang lebih tinggi, memberi beasiswa sehingga mampu meringankan beban orang tua yang terkendala masalah biaya dalam menyekolahkan anaknya, bahkan membangun sekolah khusus yang untuk fakir miskin. Akan tetapi, keinginannya itu belum bisa terwujud, dia merasa kurang bermakna, sehingga kegalauan pun melandanya.

Kemungkinan terakhir yang saya asumsikan adalah kemampuan adversity quotient yang kurang dimiliki oleh sahabat saya yang hobi mendaki ini. Aryono (2017) berpendapat bahwa adversity quotient mempengaruhi toleransi terhadap stres pecinta alam. Pecinta alam dengan tingkat adversity quotient yang tinggi akan mampu menghadapi setiap kesulitan yang ada dan emosi yang matang membuat pecinta alam mampu mengontrol dan mengekspresikan emosinya secara baik serta meningkatkan toleransinya terhadap stres.

Berkaitan dengan hal ini, lebih dari tiga kali saya ditanya Roni tentang kabar dari gunung Merapi. Singkat cerita, gunung yang berada di kota Yogyakarta ini sudah satu tahun ditutup jalur pendakiannya karena berstatus waspada. Karena memiliki jiwa pendaki yang bergelora, rasanya kakinya gatel kalau seandainya tidak naik gunung satu bulan saja. Dari situ, saya berasumsi bahwa karena jalur pendakian gunung Merapi tidak dibuka-buka, padahal Roni memiliki keinginan yang kuat untuk menginjakkan kakinya di puncak gunung yang tingginya 2930 ini, akhirnya menyebabkan dia galau.

Galau Ala Nabi dan Sarjana Muslim

Terlepas dari asumsi-asumsi saya akan kemungkinan galaunya Roni yang bisa jadi benar atau salah, adalah wajar homo sapien mengalami hati yang gelisah, resah, sedih, cemas, murung dan khawatir. Bahkan sekelas nabi saja mengalaminya. Sebut saja Nabi Ibrahim yang galau karena masyarakatnya pada waktu itu menyembah patung, Nabi Sulaiman galau karena ada seorang ratu pemuja matahari, dan juga Nabi Muhammad yang galau lantaran dihina, dicaci maki tatkala berdakwah meninggikan kalimat Tauhid. Akan tetapi para Nabi bergerak dan bertindak. Nabi Ibrahim mendekonstruksi berhala-berhala sesembahan, Nabi Sulaiman mengirim surat kepada ratu tersebut, dan Nabi Muhammad berhijrah untuk mencari pengikut.

Kegalauan intelektual menarik dialami oleh para sarjana muslim di mana dari keresahan hatinya itu, terbitlah sebuah karangan-karangan fenomenal. Semisal imam al-Ghazali (w. 505 H) dalam pengembaraan intelektual, mulai dari ilmu kalam, filsafat, bathiniah dan berakhir sufi, melahirkan kitab Munkiż min aẓ- Ẓalāl, galau imam al-Muzani (w. 264 H) ketika mendapati apa yang ditulis oleh gurunya, Imam Syafi'i (204 H) dalam kitab al-Umm dan al-Hujjah hanya berisi riwayat-riwayat beliau dalam masalah fiqih, kemudian mendorongnya menulis kitab Mukhtaṣar al-Muzanī, kegalauan Ibn Qutaibah (w. 276 H) melahirkan kitab Ta’wīl Mukhtalaf al-Ḥadīṡ, juga kegalauan Ibn Hazm (w. 567 H) mendorongnya menulis kitab al-Muḥallā, dan rasanya terlalu buanyak jika saya sebutkan semuanya.

Dari penjabaran di atas, dapat dipetik pelajaran bahwa jika ingin keluar dari zona galau, maka jangan hanya stagnan di kondisi tersebut. Akan tetapi perbuatlah sesuatu yang mampu mengubah keadaan yang sedang terjadi. Para Nabi dan Ulama telah memberikan contoh bagaimana mereka berbuat, dan menulis, untuk mendobrak tembok kegalauan yang memenjara mereka. Oleh karena itu, pesanku untuk sahabatku, Roni, jangan berdiam diri, bergeraklah!! Dan pesan untuk saya pribadi, sabaro!! Awal bulan kurang sedelokk!!!

foto saya (paling kanan) dan Roni (paling kiri) ketika mendaki bareng puncak Argopiloso Kudus


Komentar