Antara Nyate, Riau dan Kalimantan



Saya teringat guyonan receh satu bulan yang lalu, bahwa peta Indonesia menghilang sejenak lantaran tertutup asap dari pembakaran kolosal irisan daging sapi, kerbau atau kambing kecil-kecil yang ditusuk menggunakan bambu yang sudah dibuat khusus dan kemudian dipanggang, diberi bumbu kacang atau kecap; sebut saja sate. Ya, nyate merupakan tradisi khas penduduk berkode +62, dalam merayakan Idul Adha, sehingga terjalin relasi yang intim antar sanak saudar, teman, ataupun keluarga.

Namun, sekarang guyonan tersebut nampaknya berubah menjadi tangisan. Indonesia benar-benar tertutup asap. Bukan karena dampak pembakaran sate, akan tetapi efek dari beribu hektar hutan hangus dilahap si jago merah. Yang terlihat sekarang bukan lagi keintiman antar sesama, tetapi keputusasaan, lantaran masih menjadi misteri bagaimana nasib dari bertahan hidup di tengah peliknya kabut asap yang menyelimuti.

Riau dan Kalimantan berduka. Banyak pekerjaan terhambat. Sekolah terpaksa diliburkan. Sesak nafas menjadi ancaman jiwa. Perputaran uang macet. Bahkan kematian menjadi momok yang menakutkan. Ini bukan tragedi sepele terkait hutan yang terbakar, akan tetapi lebih radikal lagi, mengapa bisa terjadi? Apa sebabnya? Siapa dalangnya?

Cukuplah ini menjadi musibah terakhir terkait kahutla. Marilah kita sadar, bumi milik kita bersama, bahkan bukan hanya manusia, tetapi makhluk hidup lainnya. Mari kita jaga, kita rawat. Hilangkan sifat rakus dalam mengeksploitasi alam, demi kepentingan pribadi yang tiada puasnya. Masih kurangkah peringatan dari Tuhan terhadap setiap perbuatan yang kita kerjakan?

Semoga Allah senantiasa menjaga kita semuanya, dan semoga musibah yang menimpa saudara-saudara kita yang ada di Riau dan Kalimantan cepat berlalu, sehingga mampu beraktifitas seperti sedia kala. Aamiin

Komentar