Hikmah Mati Lampu


Suasana sore hari ini, di kampus ter”woow” PUTM yang bertempat di jalan Lowanu  sedang mati lampu. Ditemani secangkir madu hangat, dan dengan tubuh berbalut selimut merupakan kondisi yang paling mantap dilakukan dalam menghabiskan waktu yang langka ini. Ditambah guyuran hujan deras menjadikan suasana semakin paripurna mensupport untuk berhibernasi di kamar tidur. Duhh syahdunya

Akan tetapi, di sela-sela kenikmatan bercumbu dengan smartphone, ada sesuatu lain yang agaknya menggagu dalam fikiran saya: sore ini masuk kuliah.

Ternyata derasnya hujan tidak menghalangi Ustadz Muhammad Yusuf dalam menjalankan kewajibannya. Kedatangan dosen UIN Sunan Kalijaga ini dengan menggunakan motor meticnya menghancurkan konstruksi keadaan yang sudah terbangun sempurna. Mengingat saya adalah thalabah yang tercatat resmi di perbendaharaan PUTM, tidak ada alasan lain  tidak masuk ke kelas untuk mengikuti perkuliahan. Singkatnya, perkuliahan dimulai meskipun tidak ada iluminasi yang mendukung.

Suasana remang-remang menemani saya dalam perkuliahan sore ini. Terlihat Ustadz Yusuf sangat dinamis dan intens dalam menerangkan kuliah Mażāhib at-Tafsīr. Materi sore ini adalah pembahasan mengenai pendekatan kajian tafsir. Ringkasnya yaitu membahas pola pikir (al-ittijah al-fikri) yang dipergunakan untuk membahas suatu masalah. 

Terdapat beberapa pendekatan yang beliau sampaikan, mulai dari pendekatan flosofis, linguistik, multi disipliner, komprehensif dan lain-lain. Pengejawentahan dari materi ini ialah terciptanya bermacam-macam khazanah penafsiran dan terciptanya penafsiran yang komprehensif.

Di tengah-tengah perkuliahan, saya berfikir mengenai bagaimana para ulama klasik dalam menuntut ilmu. Mengingat Edison menemukan lampu pada abad 19, sungguh menuntut ilmu dengan tanpa penerangan listrik yang saya alami ini tentu sudah mereka alami berulang kali. Betapa hebatnya mereka, kekurangan tidak mereduksi semangat para ulama dalam mencari ilmu serta mengarang buku. 

Sebut saja imam Malik dengan kitab fenomenalnya al-Muwaṭṭa’, imam Syafi’I dengan al-Umm, imam Ahmad dengan Musnad-nya, atau imam Nawawi yang hidup 6 abad sebelum Edison mampu mengarang lebih dari 40 kitab.

Kejadian ini memberikan saya ibrah bahwa kekurangan tidak menghalangi dalam menuntut ilmu. Jadikan kekurangan sebagai pemicu semangat untuk maju. Mencari-cari alasan untuk tidak belajar adalah ciri dari thālab yang bermental tempe. Hanya satu hal saja yang bisa digunakan sebagai argumen untuk melepas sejenak aktifitas mencari ilmu, yaitu sakit.

Maka ketika kalian melihat saya tidak masuk kelas, ketahuilah saya tidak malas, tetapi saya sedang sakit, butuh istirahat dan belaian kasih sayang. Hahaha

*kisah ini terjadi pada tanggal 26 Maret 2019

Komentar