Menyadari Pentingnya Bahasa Arab Lewat Rihlah



Setelah sembilan hari bergelut dengan ujian semester, ditambah dua hari sempro risalah, pada kamis 27 Desember 2018, semester lima Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) melaksanakan rihlah ilmiah. Memang kegiatan ini tidak sepenuhnya untuk piknik, akan tetapi setidaknya mampu membuat hati saya tersenyum kembali yang sebelumnya galau, gundah dan merana. 

Dalam rihlah tersebut, ada lima destinasi yang dikunjungi: Pondok SPEAM (Sekolah Pesantren Entrepreneur al-Maun Muhammadiyah), Taman Safari, Ponpes Dalwa, Ponpes Persis Bangil dan Ma’had Ali li al-Fiqh wa ad-Da’wah. Dalam tulisan ini, saya ingin bercerita sedikit mengenai ponpes Dalwa.

Ponpes Dalwa (Darulughah wa ad-Da’wah) didirikan oleh al-Ustadz al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun pada tahun 1981. Pondok yang terletak di Bangil ini merupakan pondok Syafi’iyah kaffah, jadi jangan kaget ketika kesini melihat ikhwan berjubah dan akhwat bercadar. Kegiatan belajar mengajar di pondok yang terkenal bahasa Arabnya ini lesehan dengan sistem halaqoh. Akan tetapi hal tersebut tidak mereduksi semangat santri dalam belajar sehingga mampu mencetak santri yang unggul dan berprestasi. Usut punya usut ternyata kunci kesuksesan itu adalah witid setengah jam setelah shalat.

Yang namanya pondok pesantren, dinamika kehidupan nyaris tanpa henti selama 24 jam, begitu juga dengan Ponpes ini. Kegiatan dimulai dari jam tiga pagi untuk melaksanakan shalat tahajud. Di pagi harinya, diadakan senam kolektif di depan asrama, kemudian dilanjutkan dengan aktifitas individu. 

Kegiatan pembelajaran dimulai pada pukul delapan pagi. Setelah shalat dzuhur makan siang, kemudian istirahat, dilanjutkan pada pukul dua hingga sore hari. Setelah shalat maghrib, santri diberi materi tafaqquh fiddin untuk memperkuat epistimlogi agama. Pada malam harinya, dilanjutkan dengan belajar dan ekstra, kemudian berakhir pada pukul sepuluh malam.

Seperti yang saya katakan di awal, bahwa ponpes ini terkenal dengan bahasa Arabnya. Setiap hari santri dituntut untuk berbahasa Arab aktif. Ketika ditanya kiat sukses berbahasa Arab, Ustadz Hasan Bashri, selaku pimpinan pondok mengatakan bahwa pondok ini memiliki empat hierarki dalam mengajarkan bahasa Arab, yaitu: istimā’ (mendengar), kalām (berbicara), qirāah (membaca), dan terakhir kitābah (menulis). 

Yang juga tidak kalah penting adalah adanya iqab (hukuman) konkrit bagi santri yang melanggar. “Karena peraturan tidak akan berjalan tanpa adanya iqab” ucap beliau. Di pondok ini juga menerapkan sistem tahassus bagi santri baru. Satu bulan di karantina dengan tuntutan menghafal setiap hari minimal lima mufradat (kosa kata) kemudian mempraktekkannya.

Mempelajari bahasa Arab sangatlah fundamental. Sungguh Allah swt menurunkan al-Qur’an dan menjadikan Rasulullah sebagai penyampai risalah menggunakan bahasa Arab. Maka benarlah perkataan Ibnu Taimiyah bahwa tidak ada jalan lain untuk mempelajari agama Islam, kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, mari kita mempelajarinya secara maksimal, sehingga mampu memahami Islam dengan baik dan benar.

Komentar