al-Ghozali dan Ibnu Rusyd: Akademisi Profesional



Pada abad ke-5 H, jagad perfilsufan dibuat gempar dengan terbitnya sebuah kitab kontroversial karya Kyai al-Ghozali berjudul Tahāfut al-Falāsifah. Betapa tidak, Kyai yang dilaqabi dengan Ḥujjatul Islām ini, secara radikal mengkritisi para filsuf muslim, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina, akan buah pemikiran mereka yang sedang mekar di dunia keIslaman. Bahkan, tak tanggung-tanggung, pengarang kitab Ihyā' Ulūmiddīn ini sampai menggunakan narasi "kafir" dalam menghakimi mereka.

Dari narasi tersebut, tentunya menimbulkan berbagi persepsi dari firqah mazhab filsafati.  Ada yang radikal-konservatif dan apriori berkomentar: "goblok lu li, neraka kau, kaveer", ‒begitulah kira-kira cacian yang akan diterima oleh Kyai al-Ghozali jikalau zaman dulu sudah ada penduduk +62 yang ikut dalam mazhab ini. Haha.‒ Akan tetapi juga ada yang menanggapinya dengan santuy layaknya lagi di pantuy.

Dilihat dari perspektif sosiologis, memang sangat wajar jika ada yang bar-bar dalam mengomentari pendapat Kyai al-Ghozali tersebut. Hal itu dikarenakan pemikiran yang menurut mereka sudah mapan di perbendaharaan turats dari abad ke-3 H, begitu mudahnya disalahkan, bahkan dikafirkan.

Nah kembali lagi ke macam respon terhadap Kyai al-Ghozali, adalah Kyai Ibnu Rusyd yang menanggapinya dengan santuy. Kyai asal Cordova, Andalusia ini, tidak membalas pemikiran Kyai al-Ghozali dengan celaan dan makian, akan tetapi dengan memposisikan dirinya sebagai akademisi. Kyai yang dikalangan filsuf barat lebih terkenal dengan sebutan "Averroes" ini membaca buku tersebut, mempelajarinya, dan menelitinya. 

Dari hasil elaborasi yang dilakukan, kemudian Ia karang sebuah kitab ilmiah yang tidak kalah fenomenal: Tahāfut at-Tahāfut. Kitab tersebut menyanggah seluruh narasi yang dituduhkan oleh Kyai al-Ghozali terhadap para filsuf, mulai dari masalah yang bersifat teologis sampai terkait dengan alam semesta.

Perang pemikiran antara Kyai al-Ghizali dan Kyai Ibnu Rusyd memberikan pelajaran agar merespon permasalahan dengan arif dan bijak. Sebagai seorang yang berpendidikan alangkah lebih mantapz jikalau ada karya ilmiah yang anomali, jangan langsung dibuly, tetapi harus dicermati. Jangan dicaci, tetapi harus diteliti. Sehingga tradisi nalar intelektual semacam ini akan senantiasa hidup pada setiap zaman nanti.

Komentar